Selasa, 28 Maret 2017

Sains

Kisah Gurita, Cumi-cumi, dan Cangkangnya dalam Perspektif Evolusi

Selasa, 7 Maret 2017 | 21:09 WIB
Shutterstock Gurita purba punya cangkang. Gurita modern tak punya itu karena akan membuatnya tidak gesit.

KOMPAS.com - Cumi dan gurita saat ini memang bertubuh licin. Tapi siapa sangka, dahulu kedua hewan tersebut bercangkang.

Mengapa kedua hewan itu kehilangan cangkangnya? Kapan terjadinya perubahan itu? Sebuah penelitian yang dirilis Proceedings of the Royal Society B pada 1 Maret 2017 mengungkapnya.

Davide Pisani, peneliti dari University of Bristol melakukan penelitian dengan memadukan riset fosil dan genetika.

Ia dan timnya melakukan analisis genetika dengan teknik jam molekuler. Hasil analisis lantas dibandingkan dengan fosil yang ada.

"Kunci jam molekuler adalah bahwa mutasi akan terus terakumulasi dari waktu ke waktu," kata Davide. "Dengan mengetahui jumlah mutasi per sejuta tahun dan variasinya per grup, maka waktu evolusi bisa diperkirakan."

Studi mengungkap, cumi dan gurita mulai kehilangan cangkang mereka selama periode waktu yang disebut Revolusi Laut Mesozoikum.

Dalam periode itu, reptil dan dan ikan predator mulai muncul di lautan. Makhluk lain yang lebih lemah terancam. Mereka yang punya cangkang sangat keras dan mampu menghindar dari mangsalah yang selamat.

"Selama revolusi justru nenek moyang sejumlah cumi-cumi dan gurita banyak yang mati," kata Jakob Vinther, peneliti lain yang terlibat.

"Sekitar 160 juta-100 juta kemudian mereka digantikan dengan bentuk gurita dan cumi yang licin seperti saat ini," tambahnya.

Cangkang pada cumi dan gurita ternyata malah melemahkan. Cangkang dalam membuat kedua jenis itu sulit untuk bergerak.

Kehilangan cangkang, keduanya menjadi lebih gesit dalam menangkap mangsa serta menghindari predator. Cumi bergerak dengan mengompresi tubuh mereka dan meluncur di air seperti cerobong.

"Mengurangi cangkang akan memberi keuntungan yang lebih besar daripada pendahulu mereka yang memiliki cangkang lebih besar dan berat," kata Vinther.




Penulis: Kontributor Sains, Monika Novena
Editor : Yunanto Wiji Utomo
TAG: