Rp 53,4 Miliar untuk Lanjutkan Program Restorasi Gambut - Kompas.com

Rp 53,4 Miliar untuk Lanjutkan Program Restorasi Gambut

Yunanto Wiji Utomo
Kompas.com - 06/03/2017, 21:27 WIB
KOMPAS.COM/SRI ANINDIATI NURSASTRI Taman Nasional Sebangau di Kalimantan Tengah merupakan lahan hutan gambut yang dilalui beberapa sungai, salah satunya Sungai Koran yang berair hitam. Warna ini bukanlah hasil limbah, melainkan zat tannin yang ada di dalam rawa gambut.

KOMPAS.com - Badan Restorasi gambut (BRG) menjalin kerjasama dengan Millenium Challenge Account (MCA) Indonesia dalam programnya. Dengan kerjasama tersebut, BRG mendapat dukungan senilai Rp 53,4 miliar untuk program restorasi di Muaro Jambi, Tanjung Jabung Timur, dan Pulau Pisau.

"Dana ini nantinya akan dipakai untuk pemetaan hidrologis, design engineering untuk sekat kanal agar sesuai ketinggian dan ketebalannya, dan pengadaan alat water table monitoring untuk memantau ketinggian air," ungkap Bonaria Siahaan, Direktur Eksekutif MCA-Indonesia.

Selain itu, dana juga akan digunakan untuk peningkatan kapasitas masyarakat yang hidup di sekitar lahan gambut. Salah satunya adalah program pelatihan petani untuk mendukung program pertanian ramah gambut. Petani diharapkan mampu membuktikan bahwa pertanian dan perkebunan tidak harus merusak lahan berharga tersebut.

Kepala BRG, Nazir Foead, mengungkapkan bahwa sebanyak 7 juta hektar lahan gambut di 7 provinsi prioritas restorasi telah terbuka. Dari sejumlah lahan itu, BRG menargetkan restorasi di lahan seluas 2,49 juta hektar dalam 4 tahun ke depan.

Dengan kerjasama MCA-Indonesia, BRG mendapatkan asistensi dalam peningkatan kapasitas serta program restorasi lainnya. BRG juga akan memanfaatkan peta lahan gambut berisi informasi biofisik, sosial, hukum, dan administrasi di Muaro Jambi, Tanjung Jabung Timur, dan Kubu Raya yang disusun MCA Indonesia.

Peta LiDAR

Deputi Perencanaan dan Kerja Sama BRG, Budi S Wardhana, mengungkapkan bahwa penentuan lokasi sekat kanal serta rancangannya akan ditentukan berdasarkan peta LiDAR (light, detection, and ranging) yang dibuat. Kini, sudah 718.000 hektar lahan gambut di 5 kesatuan hidrologis yang telah dipetakan.

Peta LiDAR mencakup foto udara yang digunakan untuk melihat geografi lahan gambut serta lingkungan sekitarnya. Dengan foto udara, BRG bisa mengetahui ada tidaknya masyarakat yang hidup di sekitar lahan gambut yang akan direstorasi. Itu akan menentukan perlu tidaknya pendekatan dengan masyarakat.

Peta LiDAR juga mencakup tutupan lahan. "Kita bisa mengetahui kerapatan lahan gambut jadi bisa menentukan perlu tidaknya melakukan revegetasi. Dari situ kita juga bisa menentukan komoditasnya," ungkap Budi usai konferensi pers penandatanganan kerja sama BRG - MCA Indonesia pada Senin (6/3/2017).

Bagian ketiga peta LiDAR adalah digital elevasi. Peta ini memuat peta kanal di suatu lahan gambut beserta ketinggiannya. Peta ini penting untuk menentukan desain dan jumlah sekat kanal yang dibutuhkan. "Setiap perbedaan ketinggian 50 cm harus ada 1 sekat kanal," kata Budi.

Sejauh ini, peta LiDAR sudah mencakup kesatuan hidrologis gambut Tebing Tinggi, Pulau Padang di Riau, Sungai Cawang-Air Lalang, Air Sugihan-Sungai Saleh di Sumatera Selatan, serta Sungai Kahayang-Sebangau di Kalimantan Tengah. Menurut Budi, masih ada 23 kesatuan hidrologis gambut lagi yang harus diselesaikan pemetaan LiDAR-nya.


Bagaimana manusia memicu hilangnya harta karun gambut tropis yang terkumpul sejak 11.000 tahun lalu? Simak dalam VIK "Hikayat Singkat Gambut Tropis" dan Harta karunnya di tautan ini.


PenulisYunanto Wiji Utomo
EditorYunanto Wiji Utomo
Komentar
Close Ads X