Selasa, 28 Maret 2017

Sains

Tak Bisa Bergerak, Bagaimana Stephen Hawking Bisa Punya Anak?

Senin, 9 Januari 2017 | 21:13 WIB
PR Image via Daily Mail Stephen Hawking dalam bentuk hologram tiga dimensi di Sydney Opera House.

KOMPAS.com - Pertanyaan yang tak jarang diajukan di berbagai forum online tentang Stephen Hawking adalah bagaimana fisikawan terkemuka itu bisa punya anak sementara tubuhnya mengalami penyakit saraf motorik?

Anda yang melihat film "The Theory of Everything" mungkin mendapat petunjuk. Intinya Amyothropic Lateral Sclerosis (ALS) tidak menyebabkan fungsi organ seksual tak bekerja.

ALS menyerang saraf motorik sehingga memengaruhi gerak tetapi tidak memengaruhi aliran darah ke penis yang menjadi sebab ereksi. Jadi, reproduksi tetap bisa dilakukan.

Namun, apa yang dialami Hawking dan penderita ALS lainnya jauh lebih kompleks dari yang dideskripsikan dalam film itu.

Menurut Reference.com, alah satu yang mendukung Hawking untuk memiliki anak adalah proses degenerasi saraf motorik akibat ALS yang berlangsung lambat.

Hawking didiagnosis ALS pada tahun 1963. Ia menikah pada tahun 1965 dan memiliki anak pertama pada 1967. Saat itu, bagian bawah tubuhnya masih bisa digerakkan.

Tahun-tahun berikutnya, fungsi gerak tubuh Hawking semakin menurun tetapi belum mengalami paralisis. Hawking masih bisa berhubungan seks hingga melahirkan anak ketiganya pada tahun 1979.

Saat ini, Hawking sudah lumpuh total. Ia hanya berkomunikasi dengan bantuan otot di pipinya. Jika Hawking langsung mengalami paralisis seperti sekarang, maka sulit baginya untuk bereproduksi.

Seks bagi Penderita ALS

Meksi tak langsung memengaruhi organ kelamin, ALS jelas memengaruhi aktivitas seksual. ALS membuat tubuh kesulitan bergerak sehingga seks kurang menyenangkan.

Sementara itu, ALS juga menurunkan fungsi pernafasan. Dengan nafas yang tersengal, maka seks yang berkualitas sulit dicapai.

Studi M Wasner dari Munich University Hospital-Grosshadern yang dipublikasikan di Journal of Neurology pada april 2004 mengungkap, ALS mengurangi aktivitas dan kualitas seks.

Dibandingkan dengan saat sebelum menderita ALS, ketertarikan seksual berkurang 72 - 44 persen pada penderita ALS dan 78 - 44 persen pada pasangannya.

Sementara, aktivitas seksual berkurang dari 94 - 76 persen pada penderita ALS dan 100 - 79 persen pada pasangannya.

Bagi para ilmuwan, seks berkualitas penting untuk siapa pun, termasuk penderita ALS. Situs alsworldwide.org mengungkap sejumlah hal penting yang harus diperhatikan untuk kelancaran seks bagi penderita ALS.

Komunikasi jelas penting bagi penderita dan pasangannya. Hal lain yang penting adalah merencanakan seks saat energi prima, berhubungan seks dua jam setelah makan, serta berendam air hangat untuk menguragi kekakuan otot.


Penulis: Yunanto Wiji Utomo
Editor : Yunanto Wiji Utomo
TAG: