Vera Rubin, Perempuan Penemu Bukti Materi Gelap, Meninggal Dunia - Kompas.com

Vera Rubin, Perempuan Penemu Bukti Materi Gelap, Meninggal Dunia

Yunanto Wiji Utomo
Kompas.com - 27/12/2016, 20:18 WIB
Carnegie Institution Vera Rubin. Foto diambil pada tahun 1970-an, saat Rubin melakukan riset untuk menemukan bukti keberadaan materi gelap.

KOMPAS.com - Dunia kehilangan ilmuwan perempuan teladan. Vera Rubin, astronom yang lewat risetnya menemukan bukti kuat keberadaan materi gelap, meninggal pada Minggu (25/12/2016), tepat pada hari Natal.

Kematian Rubin dalam usian 88 tahun diterima media pada Senin (26/12/2016) lewat puteranya, Allan Rubin, yang merupakan profesor dalam bidang geologi di Princeton University.

Perjalanan Rubin sebagai ilmuwan maupun perempuan pantas menjadi teladan. Ketekukannya mampu mengubah pandangan para ilmuwan tentang semesta dan materi gelap sekaligus mendobrak keterbatasan peran perempuan dalam sains.

Sejak tahun 1930-an, istilah materi gelap telah dikenal. Namun, tak seorang pun mampu menemukan bukti pendukung kekuatan yang tak terlihat di alam semesta itu.

Tahun 1970-an, Rubin menemukan bahwa galaksi tak berotasi seperti yang dianggap sebelumnya. Hal itu kemudian menjadi bukti adanya gaya yang tak terlihat yang berasal dari materi gelap.

Atas perannya, Rubin mendapatkan penghargaan National Medal of Science dari Presiden Bill Clinton pada 1993 dan menjadi perempuan kedua anggota National Academy of Science.

Ketertarikan Rubin pada astronomi tumbuh sejak kecil, bermula ketika ayahnya yang seorang insinyur elektronika mengajaknya bertemu dengan astronom amatir.

Beranjak dewasa, Rubin lantas ingin belajar astronomi di universitas. Ayahnya sempat menyarankannya untuk menjadi pakar matematika karena sulitnya hidup sebagai astronom. Naun, Rubin tetap mantap pada pilihannya.

Perjuanngannya menjadi astronom tak mulus. Ia tak bisa mendaftar program pasca sarjana ke Princeton University karena ia perempuan. Saat itu, kursi bagi perempuan untuk belajar sains masih sangat terbatas.

Ia lalu mengambil program master di Cornell University dan meneruskan program doktor di Georgetown University. Ia sempat bekerja di Georgetown sebelum akhirnya menjadi anggota Carnegie Institution di Washington.

"Vera Rubin adalah aset bangsa dan teladan bagi kaum muda. Kami sangat kehilangan," kata Matthew Scott, Kepala Carnegie Institution, seperti dikutip ABC, Selasa (27/12/2016).

Kosmolog dari Institut Teknologi Bandung, Premana Premadi kepada Kompas.com, mengatakan, "Beliau membuat saya bersemangat menekuni astronomi. Beliau sempat memberi kuliah tamu saat saya belajar di Austin (University of Texas)."

Menurut Premana, Rubin harus menjadi penyemangat ilmuwan perempuan muda sekaligus mengingatkan masih kecilnya jumlah perempuan dalam ilmu pengetahuan.

"Perlu dukungan dari masyarakat dan lingkungan kerja sehingga lebih banyak perempuan berkarya dalam bidang sains," katanya.

PenulisYunanto Wiji Utomo
EditorYunanto Wiji Utomo
Komentar
Close Ads X