Kamis, 30 Maret 2017

Sains

Gempa Aceh di Luar Dugaan, Sesar Penyebabnya Belum Bisa Dipastikan

Rabu, 7 Desember 2016 | 12:02 WIB
BMKG Ilustrasi pusat gempa Aceh pada Rabu (12/7/2016).

KOMPAS.com - Gempa bermagnitudo M 9 pada 26 Desember 2004 membuat Aceh kerap diidentikkan dengan gempa besar di zona subduksi yang berpotensi tsunami. Padahal, Aceh sebenarnya terancam pula oleh gempa dengan mekanisme lain yang juga bisa merusak.

Gempa yang berpusat di 18 kilometer timur laut Pidie pada Rabu (7/12/2016) hari ini membuktikan. Bermagnitudo M 6,5, gempa kali ini telah menewaskan setidaknya 25 orang, 26 luka berat, dan merobohkan tempat ibadah dan ruko.

Update: Korban gempa hingga Rabu sore tercatat bertambah menjadi 92 orang.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan, gempa kali ini terjadi dengan mekanisme sesar geser mendatar. Pusat gempa tergolong dangkal, hanya 15 kilometer, sehingga goncangan terasa kuat di permukaan. Goncangan kuat itu yang mengakibatkan kerusakan berarti.

Pakar tektonik dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Irwan Meilano, saat dihubungi Kompas.com hari ini mengatakan, "Gempa ini sangat tidak terduga. Sampai sekarang kita masih mencari sesar apa yang menjadi penyebabnya."

"Yang kami pahami bahwa sesudah gempa 2004, pelepasan energi dari gempa 2004 melepaskan tegangan di daratan Aceh sehingga terjadi gempa-gempa kecil didaratan tersebut, termasuk gempa tadi Subuh," jelasnya. Menurutnya, dengan magnitudo M 6,5 dan berupa sesar geser, gempa ini bisa mengakibatkan pergeseran 75 cm di permukaan.

Daryono/BMKG Sesar Samalanga Sipopok yang diduga menyebabkan gempa bermagnitudo M 6,4 pada Rabu (7/12/2016).
Sementara itu, Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono, menduga kuat gempa hari ini disebabkan oleh sesar Samalanga Sipopok. Sesar itu memanjang dari perairan Selat Malaka dan masuk ke daratan Aceh hingga mendekati Takengon.

Walau banyak sumber gempa di Aceh telah dipetakan, namun sejarah gempa yang ditimbulkan oleh sesar Samalanga Sipopok hingga kini belum diketahui. "Kita belum punya referensi," kata Daryono.

Di luar ketidakpastian itu, gempa kali ini memberi gambaran bahwa Aceh pun bisa dilanda gempa dengan mekanisme sesar mendatar serta berpusat pada kedalaman yang dangkal.

Daratan Aceh dilewati oleh patahan Sumatera yang terbagi menjadi beberapa segmen besar, yaitu Aceh, Simeuleum, dan Tripa. Segmen Tripa pernah memicu gempa berkekuatan M 7,3 pada tahun 1936, merusak kota Banda Aceh. Segmen Simeuleum pernah memicu gempa yang merusak pada tahun 1964 dengan kekuatan M 6,5.

Terkait gempa hari ini, BMKG menghimbau warga untuk waspada tanpa tidak panik. Hingga pukul 10.00 WIB, terjadi 11 kali gempa susulan. Namun, intensitas gempa susulan semakin menurun. Gempa susulan terbesar bermagnitud M 4,8.

Kota-kota lain di Indonesia juga bisa terdampak gempa dengan mekanisme sesar mendatar. Ancamannya bervariasi tergantung aktivitas sesar di masingh-masing wilayah. Lebih lanjut, simak di konten interaktif berikut yang sekaligus menjadi peringatan 10 tahun gempa Yogyakarta tahun 2006.

Penulis: Yunanto Wiji Utomo
Editor : Yunanto Wiji Utomo