Terapi Sauna "Infrared" Lady Gaga untuk Nyeri Kronis - Kompas.com

Terapi Sauna "Infrared" Lady Gaga untuk Nyeri Kronis

Kontributor Health, Dhorothea
Kompas.com - 23/11/2016, 15:48 WIB
Jamie McCarthy/Getty Images for RPM/AFP Lady Gaga menghadiri perayaan ulang tahun ke-90 legenda musik Tony Bennett di The Rainbow Room, The Empire State Building, New York City, AS, pada 3 Agustus 2016 waktu setempat.

KOMPAS.com — Menurut National Institute of Health, nyeri kronis adalah penyebab nomor 1 disabilitas jangka panjang di AS. Penyakit itu memengaruhi hidup 100 juta orang, menurut laporan tahun 2015. Bukan hanya orang tua yang terkena, selebriti muda yang fit seperti Lady Gaga pun punya keluhan itu.

Gaga mengunggah di akun Instagram soal keluhan nyeri kronis. Ia kewalahan dengan komen-komen yang ditinggalkan para fans sehingga penyanyi nyeleneh itu berbagi lebih soal pengalaman mengenai keluhan tersebut. Ia tak secara khusus menyebutkan penyebab nyeri kronis. Namun, Gaga memberi penjelasan kepada para pengikutnya tentang cara mengatasinya.

Di unggahan itu, Gaga berkata, "Ketika tubuh terasa kejang, satu hal yang saya temukan membantu adalah sauna infrared. Saya membeli satu. Sauna itu datang dalam bentuk kotak besar juga dalam bentuk peti serta terdapat selimut-selimut elektrik! Kalian bisa menemukan sauna infrared ini di pusat homeopati."

Sebetulnya apa sih sauna infrared ini? Sauna jenis ini pada dasarnya adalah sebuah ruangan tempat kita diberi paparan cahaya dengan frekuensi infrared atauinfra merah (cahaya antara yang kelihatan dan setara gelombang radio).

Sejumlah tempat di AS pun mulai menyediakan jasa sauna ini. Selain membantu masyarakat yang mengalami nyeri, sauna ini pun membantu mengurangi bengkak dan inflamasi, menyehatkan kulit, dan membantu penyembuhan luka. Klaim-klaim ini memang belum diinvestigasi oleh peneliti medis. Akan tetapi, sudah ada studi-studi awal yang menjanjikan.

"Kenyataannya, ada banyak terapi nyeri yang tak berdasar," kata Neel Mehta, MD, direktur medis manajemen nyeri di New York Presbyterian/Weill Cornell.

"Masyarakat bilang terapi itu ada manfaatnya, ada juga yang bilang tidak ada manfaatnya atau bikin nyeri makin buruk. Ketika merekomendasikan terapi sebagai dokter, kami mencari bukti untuk mendemonstrasikan apakah ada perbaikan atau tidak. Kami tak punya studi-studi yang kuat yang membuktikan terapi infrared bermanfat," katanya.

Ini tak berarti kita perlu berhenti menjalani terapi ini sama sekali hanya karena tak ada bukti solid tentang manfaatnya bagi masalah nyeri. Dokter mungkin punya pemikiran bagaimana infrared bekerja mengurangi bengkak dan inflamasi yang pada akhirnya mengurangi nyeri.

"Ada peningkatan sirkulasi darah ketika kita terpapar sinar infrared. Senyawa yang disebut nitrit oksida hadir ketika terjadi inflamasi dan ketika pasien diterapi infrared, peningkatan pembuluh darah mengeluarkan nitrit oksida yang terkumpul di satu bagian tubuh," ujarnya.

Sebagai terapi medis yang belum diteliti, terapi sinar infrared ini juga punya risiko. "Terutama jika kita menjalani terapi berulang, terapi ini berpotensi menyebabkan kerusakan kulit karena energi panas," kata Mehta.

"Pemilik kulit sensitif perlu berhati-hati. Ada banyak jangkauan panjang gelombang di dalam infrared sehingga tak seorang pun tahu dengan pasti panjang gelombang mana yang terbaik," tuturnya. Karena sinar infrared ini terjadi dalam bentuk spektrum, tak seorang pun tahu di poin mana sinar itu sangat bermanfaat atau sangat berbahaya.

Orang dengan penyakit tertentu seperti scleroderma mungkin perlu berhati-hati dengan terapi ini karena kulit menjadi cenderung mudah rusak.

Intinya, karena kita tak tahu bagaimana sinar infrared bekerja pada tubuh, sebaiknya jangan berharap hasil yang spesifik. "Hal yang selalu saya katakan kepada pasien adalah gunakan dengan hati-hati karena belum ada studi jangka panjang. Bahaya dan manfaatnya masih belum diketahui," ujar Mehta.

PenulisKontributor Health, Dhorothea
EditorLusia Kus Anna
SumberShape
Komentar
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM