Kamis, 30 Maret 2017

Sains

Mumi Berusia 3.000 Tahun Ditemukan Masih Utuh

Jumat, 18 November 2016 | 20:15 WIB
Ministry of Antiquities Mumi berusia 3.000 tahun ini memiliki sarkofagus dengan banyak dekorasi warna-warni yang mewakili simbol religius Mesir kuno.

KOMPAS.com - Para arkeolog Spanyol menemukan mumi Mesir kuno dalam kondisi yang sangat baik di dekat Luxor. Berbaring di dalam sarkofagus kayu berwarna cerah, mumi itu terbelit kain dan plester.

"Makam itu ditemukan di dinding pagar selatan kuil yang dijuluki Temple of Millions of Years," ujar Mahmoud Afifi, kepala Badan Purbakala Mesir.

Kuil itu dibangun di tepi barat Sungai Nil oleh Firaun Thutmosis III (1490-1436 SM), salah satu raja prajurit Mesir paling berkuasa. Ia juga dikenal sebagai "Napoleon-nya Mesir", dan menjadi firaun keenam di Dinasti ke-18. Dinasti ini merupakan yang terbaik di antara dinasti-dinasti Mesir kuno lain.

Mumi itu diyakini sebagai tubuh seorang pria bernama Amenrenef, yang menyandang gelar "Hamba Rumah Raja". Amenrenef sendiri tak hidup di masa kekuasaan Thutmosis III.

Makamnya diperkirakan berasal dari Periode Menengah Ketiga (sekitar 1.000 SM) dan kemungkinan pada Dinasti ke-21.

"Ketika kuil tak lagi digunakan, area itu digunakan sebagai pemakaman," kata ahli Mesir kuno Myriam Seco Alvarez, kepala tim arkeolog Spanyol.

"Hingga kini yang kami tahu, pemakaman di bawah kuil berasal dari Kerajaan Pertengahan, tetapi kami tidak tahu tentang kuburan Periode Akhir dan kuburan yang baru ditemukan ini berasal dari Periode Menengah Ketiga," tambahnya.

Mumi berusia 3.000 tahun ini memiliki sarkofagus dengan banyak dekorasi warna-warni yang mewakili simbol religius Mesir kuno.

Alvarez, yang telah bekerja di kuil tersebut sejak 2008, mencatat bahwa inskripsi dan dekorasi termasuk simbol-simbol matahari dan Nephthys merentangkan sayapnya, empat putra Dewa Horus, dan banyak adegan yang dicat halus.

"Misi kami saat ini ialah mempelajari kuburan dan isinya untuk menemukan informasi lebih banyak tentang pemiliknya,” kata Afifi.(Lutfi Fauziah/Live Science, Seeker)

Editor : Tri Wahono
Sumber: National Geographic Indonesia,