Ini Dia "Makhluk Frankenstein", Kombinasi Tawon, Belalang, dan Kecoa - Kompas.com

Ini Dia "Makhluk Frankenstein", Kombinasi Tawon, Belalang, dan Kecoa

Kompas.com - 19/10/2016, 19:00 WIB
George Poinar Jr. Aptenoperissus burmanicus

KOMPAS.com - Peneliti baru-baru ini menemukan serangga misterius yang terperangkap di batu amber selama 100 juta tahun.

Tidak seperti serangga lain yang pernah hidup di muka bumi, serangga ini memiliki penampakan yang aneh. Wajahnya seperti tawon namun tidak memiliki sayap, kakinya seperti kaki belalang dan antenanya menyerupai milik semut.

Peneliti menamai makhluk serupa Frankenstein ini Aptenoperissus burmanicus.

"Saat pertama kali saya melihat serangga itu, saya tidak bisa menjelaskan itu apa," kata George Poinar Jr., peneliti dari Universitas Oregon seperti dikutip dari Livescience Senin (17/10/2016).

"Kami bisa melihat kalau serangga itu tangguh dan mematikan. Kami harus menggolongkannya dalam keluarga baru karena tidak cocok dengan keluarga serangga lainnya," tambah Poinar yang juga ahli fosil yang terawetkan dalam batu amber.

Spesimen serangga aneh itu ditemukan di lembah Hukwang di Myanmar. Begitu menemukan makhluk itu, Poinar langsung membicarakan dengan ahli dari berbagai latar belakang. Semua bingung.

"Setelah mereka melihat fosil ini dari sudut pandang keahliannya, mereka melihatnya sebagai sesuatu yang berbeda," kata Poinar.

"Kaki belalangnya kuat, maka kita bisa menyebutnya belalang. Antenanya tampak seperti semut, perutnya tebal menyerupai kecoa tetapi wajah sebagian besar mirip tawon. Kami akhirnya memutuskan ini adalah jenis lain Hymenoptera," kata Poinar.

Pinar menempatkan serangga itu dalam keluarga baru bernama Aptenoperissidae.

Peneliti belum mengetahui lebih lanjut mengenai bagaimana serangga aneh ini hidup. Tidak jelas pula mengapa serangga ini punah. Meski begitu, diduga jenis ini punah karena ketidakmampuannya terbang.

Asal-usul serangga ini misterius. Dia punah tanpa meninggalkan jejak evolusi. Tidak ada kerabat dekat yang dikenal, baik masa lalu atau sekarang.



EditorYunanto Wiji Utomo
Komentar
Close Ads X