Peran Orang Terdekat untuk Lansia dengan Gangguan Kesehatan - Kompas.com

Peran Orang Terdekat untuk Lansia dengan Gangguan Kesehatan

Kompas.com - 28/07/2015, 10:20 WIB


Individu yang menginjak usia lanjut (lansia) seringkali dihadapkan pada penurunan kondisi fisik yang mengkhawatirkan di berbagai aspek, seperti penglihatan, pendengaran, gangguan pencernaan, dan lain sebagainya. Gangguan kesehatan fisik ini tidak jarang membawa dampak negatif pada kondisi kesehatan mental lansia yang mengalaminya.

Seringkali lansia pun dihadapkan dengan fakta bahwa penurunan kondisi fisik yang mereka alami tidak dapat dipulihkan sepenuhnya, sehingga mereka harus berusaha menerima hidup dengan perubahan kondisi fisik tersebut. Hal inilah yang pada akhirnya dapat berdampak mengganggu kesehatan mental di hari tua mereka, terutama jika mereka mengalami hambatan dalam beradaptasi dan menerima kondisi yang dimaksud.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Dra. Dharmayati B. Utoyo, M.A., Ph.D dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia beserta rekan yang diterbitkan pada jurnal internasional “Gerontology and Geriatric Medicine” di tahun 2015 melaporkan sebuah kasus penanganan depresi pada lansia perempuan, sebut saja Ibu A. Ibu A menjadi depresi karena mengalami gangguan penglihatan parah akibat komplikasi dari trauma di kepala (jatuh), katarak, dan anemia berat.  

Pada artikel jurnal berjudul “Modifying Cognitive-Behavioral Therapy for a Depressed Older Adult With Partial Sight: A Case Report” yang melaporkan penanganan psikologis terhadap Ibu A disebutkan bahwa lansia yang menjadi partisipan tadi mengalami depresi akibat gangguan penglihatan yang dialaminya. Ia menjadi kehilangan rasa percaya diri dan menghindari keluar rumah. Lebih dari itu, ia juga merasa frustrasi karena tidak dapat melakukan kegiatan sehari-hari yang biasa ia lakukan, seperti menyiapkan makanan di rumah untuk suaminya.

Penanganan psikologis tentu saja tetap bisa diberikan kepada lansia dengan masalah kesehatan mental yang memiliki keterbatasan fisik, namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan disesuaikan dalam implementasinya. Seperti kasus Ibu A yang dilaporkan pada jurnal di atas, psikolog yang memberi penanganan pada akhirnya harus berkolaborasi dengan intensif dengan suami dari partisipan.

Kerja sama dengan pihak keluarga ini diperlukan guna memastikan kesinambungan proses terapi saat berada di luar sesi tatap muka bersama psikolog. Hal ini terutama diperlukan karena terapi yang digunakan untuk menangani Ibu A adalah terapi kognitif-perilaku yang menuntut partisipan melakukan pencatatan kegiatan harian, termasuk kondisi pikiran serta perasaan, dan melaporkannya sepanjang proses terapi.

Tidak dapat dipungkiri bahwa seringkali ada orang-orang yang enggan mendapatkan penanganan psikologis karena merasa tidak akan memperoleh efek positif dari hal tersebut. Terlebih pada lansia yang memiliki gangguan kondisi fisik, perasaan tidak berdaya di hari tua yang bercampur dengan frustrasi akibat gangguan atau penyakit fisik yang tidak bisa diperbaiki membuat mereka merasa tidak akan ada gunanya menjalani terapi psikologis.

Padahal, penanganan psikologis yang tepat akan dapat membantu mereka beradaptasi dengan kondisi fisik mereka dan membuat mereka mampu mencari cara tetap aktif dan produktif dengan cara-cara sederhana dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Poin penting yang perlu diingat dalam hal ini adalah melibatkan anggota keluarga atau kerabat yang dapat dipercaya oleh lansia yang membutuhkan bantuan, agar proses penanganan psikologis dapat berjalan dengan baik dan efektif.

Perlu juga diinformasikan kepada partisipan mengenai pentingnya melibatkan keluarga atau kerabat, yaitu semata-mata untuk kebaikan mereka sendiri, demi membantu mereka beradaptasi dengan perubahan kondisi fisik yang mereka alami.

Pada akhirnya, keberhasilan proses terapi psikologis dalam kasus-kasus semacam ini sangat ditentukan oleh matangnya kerja sama antara psikolog yang menangani, keluarga atau kerabat yang mendampingi, serta tentu saja, lansia yang menjadi fokus dari terapi psikologis itu sendiri.

Selepas sesi tatap muka dengan psikolog, peran dari keluarga atau kerabat masih akan terus diperlukan untuk membantu memastikan bahwa proses penanganan psikologis dapat dipertahankan secara berkelanjutan.
    


EditorLusia Kus Anna
Komentar
Close Ads X