F-16 Fighting Falcon, Karismanya Tak Lekang oleh Waktu - Kompas.com

F-16 Fighting Falcon, Karismanya Tak Lekang oleh Waktu

Kompas.com - 17/04/2015, 18:52 WIB
KOMPAS/PRIYOMBODO Proses evakuasi pesawat tempur F16 yang terbakar di ujung landasan pacu Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (16/4/2015). Pesawat F16 dengan nomor register TS 1643 yang dipiloti oleh Letkol Pnb Firman Dwi Cahyo itu gagal tinggal landas (takeoff) dan terbakar.


Oleh Ninok Leksono

"Dua satuan Angkatan Udara AS menerima penghargaan 'Gerald John J Pesch' karena keselamatan terbang yang luar biasa pada 2004".

(Ralf Leinburger, "Fighter-Technology, Fact, History")

Menurut penuturan buku di atas, semenjak beralih ke F-16, dua skuadron ini tidak pernah mengalami kecelakaan dalam 65.000 jam terbang. Untuk Blok 50/52, hanya ada empat kecelakaan fatal atau kehilangan pesawat dalam 100.000 jam terbang. Ini alasan yang cukup untuk mengatakan bahwa pesawat yang dijuluki "Fighting Falcon" ini merupakan pesawat bermesin tunggal yang paling aman yang pernah dibuat.

Dengan latar belakang semacam itu, berita gagal lepas landasnya jet F-16 TNI AU pada Kamis (16/4) kemarin cukup mengentak. Pesawat yang baru diremajakan dalam proyek Peace Bimasena II senilai 700 juta dollar AS (sekitar Rp 9,1 triliun) ini semestinya tampil prima, meskipun ia berasal dari Blok 25 yang sudah tak digunakan lagi di lingkungan militer Amerika Serikat. Akan tetapi, pesawat hibah ini telah di-"hidup"-kan lagi di Ogden Air Logistics Center di Pangkalan AU Hill, Utah, AS. Pilot yang menerbangkannya pun-Letkol Penerbang Firman Dwi Cahyono-adalah pilot yang menerbangkan pesawat ini saat datang dari Pangkalan AU Yokota di Jepang (September lalu dengan pesawat TS-1620 dan kemarin dengan TS-1643).

Kita tentu prihatin dengan kejadian kemarin dan sudah sepatutnyalah ada penyelidikan mengenai insiden ini. Sebagaimana dilakukan terhadap dunia penerbangan pada umumnya, penyelidikan tidak untuk mencari siapa yang salah, tetapi untuk mencegah terulangnya kejadian serupa. Jika memang terjadi kebakaran pada mesin dan roda kiri lepas (Kompas.com, 16/4, 10.44), bisa dicari sebab dan kaitannya. (Sekadar mengenang musibah jet supersonik Concorde 25 Juli 2000, kecelakaan disebabkan ban meletus dan pecahannya menghantam tangki bahan bakar, membuat rentetan kejadian yang lalu menimbulkan api. Kedua mesinnya gagal dan pesawat jatuh 60 detik setelah lepas landas dari Paris [Concordesst.com].)

Terus terbang

Sebagaimana dialami oleh tim Jupiter yang mengalami musibah di Pameran Maritim dan Dirgantara Internasional di Langkawi, Minggu (15/3), insiden F-16 terakhir tak perlu menciutkan nyali. Pesawat dari Pangkalan TNI AU Roesmin Nurjadin di Pekanbaru segera digantikan oleh F-16 dari Madiun dan melanjutkan tugas, sebagaimana tim Jupiter yang segera mempersiapkan diri untuk menyemarakkan HUT TNI AU pada 9 April lalu.

F-16 C/D-sebut saja demikian karena menambahkan 52ID sempat diberi catatan oleh pihak Kedutaan Besar AS-diakuisisi oleh Indonesia sebagai bagian dari pembangunan kekuatan pokok minimum (minimum essential force).

Jet-jet F-16 ini diharapkan dapat meningkatkan kekuatan dan kemampuan kekuatan udara (air power) RI untuk menegakkan kedaulatan nasional. Selain itu, pesawat tempur ini juga diharapkan menjadi tulang punggung operasi pertahanan udara dan sebagai penjamin keunggulan udara komando gabungan TNI dalam penyelenggaraan operasi darat, laut, dan udara.

Memang, ditinjau dari evolusi F-16, tipe yang diterima Indonesia bukan dari tipe yang paling mutakhir. Tipe paling mutakhir, F-16 E/F, dimiliki oleh Uni Emirat Arab, yakni dari Blok 60, yang tergolong pesawat tempur generasi 4,5, sementara F-16 yang membentuk kekuatan udara AS dan sejumlah AU dunia lain dari Blok 50/52 (Defense Industry Daily, 26/1/2014).

Sekadar mengingat proses pengadaannya, pada waktu itu, sekitar tahun 2012, terdapat dua pandangan, yakni yang menghendaki hibah 24 pesawat dari Blok 25 dan yang menghendaki Blok 52, tetapi dengan dana yang sama, hanya akan diperoleh tak lebih dari enam pesawat. Akhirnya pandangan pertama yang lolos.

Tentu ada plus-minusnya pada setiap pilihan, tetapi pilihan pertama-yakni hibah-bernuansa kearifan. Toh kawasan aman, jadi tidak urgen untuk membeli F-16 yang setara dengan AU Singapura (RSAF) dengan tangki bahan bakar konformal di punggungnya. Dengan memiliki 24 pesawat ditambah dengan delapan F-16A/B yang dibeli pada 1989, akan lebih banyak kesempatan yang bisa diraih oleh para pilot TNI AU untuk berlatih menerbangkan pesawat mutakhir.

Pihak yang pro beli Blok 52 tentu punya argumen, jika saja ada konflik terbuka, Blok 52 brand-new akan lebih unggul dibandingkan dengan pesawat hasil peremajaan. Namun, saat itu pihak yang pro hibah menyebutkan, rangka pesawat telah diganti dan diperkuat, kokpit diperbarui, serta jaringan kabel dan elektronik baru dipasang. Semua sistem lama diperbarui dan mission computer yang menjadi otak pesawat ditambahkan. Tujuannya agar kemampuan jet meningkat setara dengan Blok 50/52.

Di luar perdebatan ini, yang terpenting sekarang adalah melanjutkan misi pengawalan dan penegakan kedaulatan negara. F-16 yang dirancang untuk misi tempur dan serang darat hanya akan mencapai tujuannya ketika para pilot tekun berlatih. Jet-jet tempur yang telah dibuat sekitar 5.000 pesawat ini oleh penggunanya, yang tersebar mulai dari Asia hingga Amerika Latin, hanya akan tampak kegunaannya manakala ia bisa menjadi sarana penggentaran bagi pesawat yang akan menyusup ke wilayah negara kita (tentu di luar pesawat tak kasatradar, seperti F-22 Raptor). Atau minimum ia bisa menjadi wahana untuk mengembangkan airmanship bagi para penerbang TNI AU sehingga ia terampil untuk menerbangkan pesawat yang dari awal dirancang untuk tidak stabil (sehingga lincah, agile) ini.

Memang ada insiden TS-1643, tetapi kita akan terus terbang menjaga dirgantara Nusantara.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 17 April 2015, di halaman 1.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorTri Wahono
Komentar
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM