Melakukan Sesuatu Berulang, Waspadai Gangguan Obsesif-Kompulsif - Kompas.com

Melakukan Sesuatu Berulang, Waspadai Gangguan Obsesif-Kompulsif

Kompas.com - 11/03/2015, 08:20 WIB


Terkadang, seseorang dapat terus-menerus memikirkan sesuatu dan sulit keluar dari pikiran tersebut. Pernahkah Anda mengalami hal tersebut? Hal tersebut dapat disebut wajar jika frekuensi munculnya hanya sesekali dan tidak sampai mengganggu aspek kehidupan orang yang mengalaminya secara signifikan.

Sebaliknya, jika sampai mengganggu fungsi keseharian, dan disertai dengan kecenderungan melakukan sesuatu yang berulang untuk mengurangi kecemasan yang ditimbulkan oleh pikiran tersebut, ini dapat dikategorikan sebagai gangguan psikologis. Gangguan psikologis yang dimaksud dikenal dengan sebutan gangguan obsesif-kompulsif, mengacu pada panduan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders versi kelima (DSM-V).

Seperti namanya, gangguan ini ditandai oleh dua komponen, yaitu obsesi dan kompulsi. Obsesi adalah pikiran-pikiran yang menetap, berulang, dan bersifat mengganggu hingga menimbulkan kecemasan dalam diri orang yang mengalaminya.

Sementara itu, kompulsi adalah perilaku yang dilakukan berulang-ulang oleh seseorang karena merasa harus melakukannya. Orang tersebut meyakini bahwa dengan melakukan perilaku berulang tersebut, kecemasan yang ia alami terkait obsesi pikirannya dapat berkurang.

Dengan demikian, orang dengan gangguan obsesif-kompulsif harus menunjukkan adanya obsesi terhadap pemikiran tertentu dan kompulsi untuk  melakukan sesuatu yang sifatnya menetap dan tidak masuk akal.

Mari simak contoh kasus berikut untuk memahami gangguan obsesif-kompulsif lebih lanjut. Ada seseorang berpikir bahwa bersalaman dengan orang lain dapat membuatnya terkontaminasi kuman penyakit. Oleh karenanya, setiap kali bersalaman dengan orang lain, ia akan langsung mencuci tangannya. Belum berhenti sampai di situ, ia pun memiliki “aturan” dalam mencuci tangannya tersebut.

Kecemasannya akan terkontaminasi kuman akibat bersalaman baru akan hilang jika ia sudah mencuci tangan dan mengelap tangannya dengan tisu basah. Kedua perilaku tersebut harus dilakukan, tidak bisa jika hanya salah satunya saja. Jika ditanya mengapa harus mencuci dan mengelap tangannya, dan tidak bisa hanya salah satu saja, ia sendiri tidak dapat menjelaskan alasannya. Ia hanya tahu bahwa ia akan merasa tenang setelah mencuci tangannya dengan sabun dan mengelap tangannya dengan tisu basah.

Pada contoh kasus di atas, masih terlihat adanya hubungan antara pikiran yang menjadi obsesi (kontaminasi kuman) dengan perilaku kompulsi yang dilakukan (mencuci tangan dan mengelap tangan dengan tisu basah), walaupun sifatnya berlebihan dan tidak masuk akal.

Namun, pada kasus lain dapat ditemukan adanya obsesi yang tidak terkait dengan kompulsi yang dilakukan. Misalnya, seseorang merasa harus melakukan apapun sebanyak tiga kali, bolak-balik mengecek bahwa pintu sudah terkunci sebanyak tiga kali, atau mengucap sebuah kata/kalimat sebanyak tiga kali sebelum melakukan sesuatu. Sama seperti contoh sebelumnya, biasanya ia tidak dapat menjelaskan mengapa harus melakukan perilaku tersebut sebanyak tiga kali, namun ia hanya akan merasa tenang jika sudah melakukan hal tersebut.  

Ada tahapan-tahapan tertentu yang perlu dilalui seseorang dalam terapi untuk mengatasi gangguan obsesif-kompulsif. Psikolog biasanya akan membuat program terapi yang disesuaikan dengan masing-masing kasus obsesif-kompulsif yang perlu ditangani.

Di samping penanganan khusus dari psikolog, secara umum, salah satu cara membantu mengatasi gangguan obsesif-kompulsif dapat dilakukan dengan membiasakan orang yang mengalami gangguan tersebut untuk berhadapan dengan hal yang membuatnya cemas, sampai obsesi dan kompulsi yang dialaminya berkurang.

Misalnya, untuk orang yang selalu mencuci tangan dan mengelap tangannya dengan tisu basah setiap kali habis bersalaman, dapat dibiasakan untuk secara bertahap mentolerir perilaku bersalaman tanpa perlu mencuci tangan.

Caranya dapat dimulai dengan mengurangi perilaku kompulsi dari mencuci tangan dan mengelap tangan dengan tisu basah menjadi hanya mengelap tangan dengan tisu basah saja, tanpa mencuci tangan, dan seterusnya hingga kecemasan berkurang tanpa harus mengelap tangan setelah bersalaman.

Proses ini disertai dengan pembahasan mengenai kecemasan yang dialami dan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa sekadar bersalaman tidak akan membuatnya terkontaminasi kuman secara instan, sehingga ia tidak perlu mencuci tangan dan mengelap tangan dengan tisu basah segera setiap kali selesai bersalaman. Bersamaan dengan upaya meredakan kecemasan tersebut, diberikan pula informasi yang terpercaya mengenai higienitas dan kaitannya dengan perilaku bersalaman.

Pemberian informasi yang terpercaya dapat sangat bermanfaat dalam penanganan gangguan obsesif-kompulsif, misalnya dalam contoh di atas, dapat membantu orang tersebut memahami dan menerima bahwa bersalaman bukanlah sesuatu yang sedemikian memicu kecemasan, sehingga sebetulnya tidak perlu ditanggapi dengan perilaku kompulsi tertentu.



EditorLusia Kus Anna
Komentar
Close Ads X