2014 Tahun Terpanas, Perubahan Iklim Nyata - Kompas.com

2014 Tahun Terpanas, Perubahan Iklim Nyata

Kompas.com - 18/01/2015, 21:12 WIB
NOAA Anomali suhu rata-rata global sejak 1880 hingga 2014.

KOMPAS.com - Hasil studi Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) dan Badan Administrasi Kelautan dan Atmosfer (NOAA) menyatakan bahwa 2014 adalah tahun paling panas sepanjang sejarah.

NOAA dan NASA melakukan analisis data suhu dari tahun 1880 hingga 2014. Terungkap, suhu rata-rata tahun lalu 0,68 derajat Celsius lebih tinggi dari suhu Bumi rata-rata dalam jangka panjang.

Sementara itu, analisis juga mengungkap bahwa sejak memasuki milenium baru atau tahun 2000, suhu Bumi rata-rata per tahun terus meningkat dan memecahkan rekor sebagai suhu terpanas.

"Ini adalah seri terakhir dari tahun-tahun terpanas dalam seri dekade terpanas," ungkap Gavin Schmidt, direktur Goddard Institute for Space Studies NASA seperti dikutip BBC, Jumat (16/1/2015).

"Sementara peringkat tahun per tahun bisa dipengaruhi oleh pola cuaca, tren jangka panjang jelas bisa dikaitkan dengan pemicu perubahan iklim yang kini didominasi oleh emisis gas rumah kaca oleh aktivitas manusia," imbuhnya.

NASA dan NOAA menyimpan dua dari tiga set data suhu global. Satu set data lagi disimpan oleh Badan Meteorologi Inggris. Berdasarkan data yang dimiliki NASA dan NOAA, peningkatan suhu banyak terjadi di lautan.

"Data menunjukkan dengan sangat jelas bahwa ini merupakan tahun terpanas di lautan tetapi belum bisa dikatakan sebagai tahun terpanas di daratan. Meskipun demikian kombinasi data memberikan petunjuk bahwa tahun lalu merupakan yang terpanas," urai Schmidt.

Thomas Karl, Direktur Pusat Data Iklim Nasional di NOAA, mengungkapkan bahwa tahun terpanas bukan berari seluruh wilayah dunia mencetak suhu lebih tinggi. "Ada beberapa area yang lebih dingin dari rata-rata," katanya.

Namun, dengan banyaknya wilayah yang suhunya lebih tinggi dari rata-rata, hasil analisis dapat menunjukkan bahwa secara umum Bumi memang memanas. Suhu terpanas di sebagian besar wilayah Eropa dan Australia membuktikannya.

Menanggapu studi itu, Bob Ward, direktur komunikasi dan kebijakan Gratham Research Institute on Climate Change di London School of Economics mengatakan, "Rekor suhu global yang diumumkan menyanggah mitos bahwa pemanasan global sudah berhenti."

"Tidak ada politisi yang bisa mengelak bukti ilmiah ini atau mengklaim bahwa pemanasan global itu hoax," katanya. Perubahan iklim terjadi, dipicu oleh aktivitas manusia, terutama pembakaran bahan bakar fosil dan deforestasi.

EditorYunanto Wiji Utomo
Komentar
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM