Situs Liyangan Sudah Dihuni Sejak Abad ke-6 - Kompas.com

Situs Liyangan Sudah Dihuni Sejak Abad ke-6

Kompas.com - 23/11/2014, 21:13 WIB
KOMPAS.com / FIKRIA HIDAYAT Situs Liyangan di kaki Gunung Sindoro tepatnya di Desa Purbosari, Ngadirejo, Temanggung, Jateng, difoto dari udara, Sabtu (23/11/2014). Tim dari Balai Arkeologi melakukan ekskavasi lanjutan di situs yang mengungkap temuan permukiman kuno abad ke-6.

KOMPAS.com
- Usia situs Liyangan ternyata lebih tua dari yang diduga sebelumnya. Situs yang berada di kaki Sindoro itu sudah ada sejak abad ke-6 Masehi.

Arkeolog Balai Arkeologi Yogyakarta yang memimpin proyek penggalian situs Liyangan, Sugeng Riyanto, mengatakan, bukti usia tua situs Liyangan adalah temuan bambu kuno.

Sampel bambu telah dikirim ke Batan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Analisis karbon mengungkap bahwa bambu tersebut berasal dari abad ke-6.

"Jadi sebelum ada Borobudur, Liyangan ini sudah ada," kata Sugeng saat ditemui di situs Liyangan, Temanggung, Sabtu (22/11/2014). Borobudur sendiri dibangun pada abad ke-7.

Menurut Sugeng, bambu yang ditemukan adalah bagian dari bangunan rumah warga desa Liyangan saat itu.

Rumah warga Liyangan diperkirakan berbentuk rumah panggung dengan tiang-tiang terbuat dari bambu. "Alasnya papan dan atapnya ijuk," kata Sugeng.

Manusia Liyangan juga telah mengenal pagar rumah. Diperkirakan, pagar juga terbuat dari bambu utuh untuk tiangnya serta bambu yang telah dibelah untuk palangnya.

Dengan temuan bambu itu, Sugeng mengatakan bahwa Liyangan dihuni dalam kurun waktu lama, selama 4 abad.

Peradaban Liyangan maju. Masyarakat-nya mampu membuat candi dengan struktur yang kompleks, membuat gerabah, serta berinteraksi dengan dunia luar.

Beberapa jejak kejayaan telah ditemukan lewat ekskavasi selama 5 tahun terakhir. Jejak itu antara lain 5 bangunan candi dan dinding batu pencegah longsor atau talud.

Liyangan kemungkinan runtuh akibat letusan Sindoro sekitar abad ke-9 Masehi. Dusun itu ditinggalkan dan terpendam selama ribuan tahun sebelum ditemukan lagi tahun 2008.

EditorYunanto Wiji Utomo
Komentar
Close Ads X