Mengenal "Solenodon", Si Tikus Raksasa Berbisa - Kompas.com

Mengenal "Solenodon", Si Tikus Raksasa Berbisa

Yunanto Wiji Utomo
Kompas.com - 25/08/2014, 18:11 WIB
WIKIPEDIA Solenodon paradoxus

KOMPAS.com — Tikus besar yang mengeluarkan air liur beracun ditemukan di Kutai Timur, Kalimantan Timur. Tikus itu diduga Solenodon, jenis tikus primitif raksasa berbisa yang sangat langka. Namun, kalangan ilmuwan membantahnya. Tikus itu diyakini tikus bulan (Echninosorex gymnura).

Seperti apa sebenarnya Solenodon? Mengapa tikus yang ditemukan di Kalimantan tak bisa disebut jenis Solenodon?

Anang S Achmadi, peneliti dari Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), mengatakan bahwa ada perbedaan mendasar antara Solenodon dan tikus bulan. "Solenodon itu tikus primitif," katanya.

Solenodon selama jutaan tahun tidak mengalami perubahan berarti, hidup semasa dengan dinosaurus. Mungkin, Solenodon bisa dianalogikan dengan komodo yang juga tak banyak berubah. Sementara itu, tikus bulan ialah tikus yang lebih modern.

Solenodon adalah tikus yang berbisa, aktif pada malam hari, serta memakan serangga. Solenodon sebenarnya adalah sebuah genus dari tikus.

Publikasi Critters 360 pada 24 Oktober 2010 menyebutkan, saat ini hanya ada dua spesies Solenodon yang tersisa di muka bumi. masing-masing adalah Solenodon paradoxus yang hidup di daratan Eropa serta Solenodon cubanus yang dijumpai di Kuba, Amerika Latin.

Spesies Solenodon arredondoi sebelumnya pernah dijumpai di bagian barat Kuba. Namun, spesies itu telah dinyatakan punah. Sementara itu, spesies Solenodon marcanoi yang hidup di Eropa juga bernasib sama.

Dihubungi Kompas.com, Senin (25/8/2014), Anang mengatakan, "Tidak pernah ada Solenodon yang ditemukan di Indonesia."

Jenis Solenodon cubanus sendiri sempat dinyatakan punah pada tahun 1970. Namun, karena ditemukan kembali pada 1974, status punah akhirnya dicabut dan diganti menjadi terancam punah.

Tahun 2012, seperti dipublikasikan Scientific American, 11 Oktober 2012, tim peneliti dari Ecology and Ecosystem Institute di Havanna dan Miyagi University di Jepang menemukan lagi spesies itu.

Solenodon paradoxus dan Solenodon cubanus berbeda karena tempat hidupnya. Spesies yang hidup di Kuba juga sedikit lebih besar.

Solenodon memakan serangga dan arthropoda lain, seperti lipan. Hewan ini memiliki liur yang beracun, berfungsi untuk mematikan mangsa sebelum memakannya. Meski demikian, Solenodon tak punya perlindungan ekstra untuk proteksi diri dari lawan.

Sementara itu, tikus bulan lebih kecil walaupun memiliki kesamaan karena memakan serangga serta memiliki liur beracun. Tikus bulan saat ini juga belum dikategorikan terancam punah. Ancaman utama tikus ini adalah deforestasi.

PenulisYunanto Wiji Utomo
EditorYunanto Wiji Utomo
Komentar
Close Ads X