Selasa, 23 Desember 2014

News / Sains

Erupsi Misterius Abad Ke-13 Diduga Berasal dari Gunung di Lombok

Selasa, 1 Oktober 2013 | 10:48 WIB
SHUTTERSTOCK / KIM BRIERS Pemandangan dari puncak Gunung Rinjani (3,726 meter) di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Terlihat Danau Segara anak yang terletak di Kaldera Rinjani.
KOMPAS.com — Ilmuwan berpikir bahwa mereka telah menemukan gunung yang mengakibatkan erupsi misterius pada abad ke-13.

Erupsi yang berlangsung pada tahun 1257 tersebut begitu besar sehingga jejak kimiawinya ditemukan di Arktika dan Antartika.

Teks pada masa pertengahan di Eropa menunjukkan bahwa erupsi berdampak pada iklim yang lebih dingin secara tiba-tiba dan kegagalan panen.

Dalam publikasi di jurnal PNAS, ilmuwan mengungkapkan, gunung api yang bertanggung jawab pada peristiwa itu adalah Gunung Samalas yang berada di Lombok.

Saat ini, tak banyak struktur gunung asli yang tersisa, hanya sebuah kawah danau rakasasa yang menjadi jejak keberadaannya.

Tim ilmuwan mengaitkan sulfur dan jejak letusan yang ada di kutub dengan data yang diperoleh dari riset di Lombok, mencakup radiokarbon, tipe, dan penyebaran batuan, serta debu, lingkaran pohon, dan bahkan sejarah lokal yang terkait peristiwa erupsi abad ke-13.

"Bukti-buktinya sangat kuat dan menarik," kata Clive Oppenheimer dari Cambridge University yang terlibat penelitian.

Frank Lavigne dari Pentheon Sorbonne University di Perancis mengungkapkan, "Kami melakukan hal yang sama seperti investigasi kriminal."

"Kami tidak tahu pelakunya pada awalnya, tapi kami punya waktu terjadinya pembunuhan dan jejak dalam bentuk geokimia di es, dan itu memungkinkan kami melacak gunung api yang menjadi penyebabnya," paparnya seperti dikutip BBC, Senin (30/9/2013).

Erupsi pada tahun 1257 pernah dikaitkan dengan gunung api di Meksiko, Ekuador, dan Selandia Baru.

Namun, analisis menunjukkan bahwa secara geokimia, gunung-gunung itu tak memenuhi syarat. Hanya Samala yang memenuhinya.

Peristiwa global

Tim ilmuwan yang meneliti menemukan bahwa sebanyak 40 kubik kilometer batu dan abu terlontar dari Gunung Samala. Material halus yang dikeluarkan mencapai ketinggian 40 km.

Hanya bila material yang dikeluarkan sebanyak itu maka jejaknya bisa sampai Greenland dan Antartika.

Material sejumlah tersebut, setelah letusan, diduga menyebabkan pendinginan global, hujan, dan banjir.

Arkeolog baru-baru ini menemukan bahwa tulang belulang yang ditemukan di pemakaman massal di London berasal dari masa tahun 1258.

"Kita tak bisa mengatakan bahwa dua hal ini berkaitan. Namun, populasi saat itu pasti tertekan," kata Lavigne.

Letusan Samala lebih kurang sama besar dengan Krakatau (1883) dan Tambora (1815).

Data dari es kutub menunjukkan peristiwa besar pada tahun 1809. Namun, seperti kasus Samala, pelaku yang bertanggung jawab belum diketahui.

Penulis: Yunanto Wiji Utomo
Editor : Yunanto Wiji Utomo