Rabu, 16 April 2014

News / Sains

Seratus Tahun Lalu, "Sriwijaya" Dikira Nama Raja

Senin, 16 September 2013 | 19:04 WIB
Reynold Sumayku/NGI Prasasi Kedukan Bukit yang ditemukan pada tahun 1920 di tepian Sungai Tatang yang mengalir ke Sungai Musi, di kawasan Karanganyar di Palembang saat ini.

KOMPAS.com — Saat ini kita mengetahui bahwa Sriwijaya adalah nama suatu kerajaan maritim besar. Namun, seratus tahun lalu, pada 1913, kata “Sriwijaya” dikira merupakan nama seorang raja. Sampai dengan saat itu, kata Sriwijaya tidak dikenal dalam dunia ilmu pengetahuan. Namanya terlupakan selama hampir satu milenium.

Adalah JHC Kern, ahli epigrafi di Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (lembaga pengkajian seni dan ilmu pengetahuan Kerajaan Belanda di Batavia), yang menerbitkan teori tersebut. Pada saat itu Kern sedang mengulas isi prasasti Kotakapur yang menyebutkan kata “Sriwijaya”. Prasasti tersebut ditemukan pada tahun 1892 di pesisir barat Pulau Bangka.

Lima tahun setelah dugaan Kern, pada 1918, barulah kata Sriwijaya berhasil diidentifikasi sebagai nama suatu kerajaan. Hal ini berkat kepandaian George Coedes yang saat itu merupakan Direktur National Library di Bangkok.

Penelitian tentang Sriwijaya terus berjalan. Sejauh ini para ahli umumnya sepakat bahwa kawasan Palembang merupakan pusat Sriwijaya. Setidak-tidaknya pada masa-masa awal kerajaan itu. Dasar pemikirannya adalah isi prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan di kawasan Karanganyar, Palembang, pada tahun 1920.

Prasasti Kedukan Bukit menyebutkan tiga peristiwa pada tahun 682. Yang pertama, Dapunta Hyang melakukan siddhayatra (perjalanan suci atau ziarah keagamaan). Kedua, Dapunta berangkat bersama armadanya. Ketiga, pendirian permukiman. (Reynold Sumayku/National Geographic Indonesia)


Editor : Yunanto Wiji Utomo