Rabu, 30 Juli 2014

News / Sains

Kabut Asap, Ironi Kejayaan Sawit Indonesia

Jumat, 21 Juni 2013 | 15:18 WIB
Reuters Gedung-gedung di Singapura diselimuti kabut asap.

Berita terkait



JAKARTA, KOMPAS.com — Indonesia memang telah berhasil menjadi produsen kelapa sawit dunia, yakni mencapai 24 juta ton pada tahun 2012. Namun, di sisi lain, Indonesia kini juga dipersalahkan karena kabut asap yang menyebar hingga negara tetangga, yang tak lepas dari praktik bisnis kelapa sawit yang mengorbankan lingkungan.

Pengampanye Hutan dan Perkebunan Skala Besar Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Zenzi Suhadi, mengungkapkan, kelapa sawit merupakan sektor penyumbang terbesar kebakaran yang menyebabkan kabut asap.

Zenzi memaparkan, industri kelapa sawit Indonesia dikembangkan dengan cara yang tak ramah lingkungan. Malaysia mengembangkan industri sawit dengan intensifikasi dan peningkatan kualitas. Sementara Indonesia memfokuskan pada penambahan area kebun yang konsekuensinya adalah pembukaan hutan besar-besaran.

Ekspansi lahan di Indonesia didukung dengan praktik politik di Indonesia. "Untuk mendapatkan izin itu sangat mudah. Pola politik transaksional di Indonesia mendukung. Kepala daerah juga bisa mengeluarkan izin. Karenanya, para pengusaha juga lebih memilih untuk membuka lahan," ujar Zenzi.

Berdasarkan catatan Walhi, telah banyak hutan yang dikorbankan untuk kelapa sawit. Hutan yang dibuka dengan pengusulan secara langsung sudah sebanyak 6,2 juta hektar. Sementara hutan yang dibuka secara kolektif dan transaksional antara tahun 2009 hingga 2013 mencapai 12,35 juta hektar.

Banyak pengeluaran izin tidak berdasarkan kajian yang memadai dan kalaupun mempunyai kajian lingkungan, penerapan kaidah lingkungan dalam praktik Industri HTI dan Perkebunan masih jauh dari sikap bertanggung jawab.

Zenzi juga mengatakan banyaknya praktik curang untuk mendapatkan perizinan. Sebagai contoh, pihak perkebunan meminta pihak lain merusaknya terlebih dahulu atau mengubahnya menjadi lahan kritis sehingga bisa diusulkan sebagai lahan yang bisa dikelola. Kasus ini, kata Zenzi, pernah terjadi di Bengkulu.

Peristiwa kabut asap, di mana Indonesia baru terlihat bereaksi setelah ada protes dari Singapura, seharusnya menjadi momen evaluasi akan perizinan pembukaan hutan dan aktivitas perusakan hutan, termasuk untuk tujuan perkebunan kelapa sawit.

Indonesia tak bisa terus hanya mengejar menjadi produsen sawit terbesar. "Jangan latah ingin menjadi nomor satu. Pada saatnya nanti, akan ada titik jenuh," ungkap Zenzi saat dihubungi Kompas.com, Jumat hari ini.

Zenzi juga mengatakan bahwa pemerintah harus mengubah pola pikirnya. "Selama ini, kelapa sawit dibilang memberikan mata pencaharian. Nyatanya kelapa sawit justru menghilangkan sumber kehidupan masyarakat."

Penulis: Yunanto Wiji Utomo
Editor : Yunanto Wiji Utomo