Selasa, 2 September 2014

News / Sains

"Hujan Bulan Juni"

Jumat, 14 Juni 2013 | 11:36 WIB

Terkait

Catatan Kaki Jodhi Yudono

Hujan masih juga belum berhenti, padahal ini sudah bulan Juni. Mustinya di bulan ini sudah masuk kemarau. Kepala BMKG, Dr. Ir. Sri Woro B. Harijono, M. Sc pada 28 Februari 2013 yang lalu di Jakarta bicara, kemarau tahun ini lebih cepat dari biasanya, "Sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau pada bulan April, Mei, dan Juni 2013."

Seharusnya musim pancaroba juga sudah lewat. Tapi rasanya kita tetap berada pada suasana serba nanggung. Musim penghujan bukan, kemarau juga tidak. Itulah pancaroba, seperti remaja yang sedang di persimpangan jalan. Ah... mirip benar dengan situasi negeri ini yang kerap berada di tengah jalan, penuh keraguan, bimbang, disertai galau yang berkepanjangan.

Pancaroba adalah masa peralihan antara dua musim utama di daerah iklim muson, yaitu antara musim penghujan dan musim kemarau. Pancaroba antara musim penghujan dan musim kemarau biasa terjadi pada bulan Maret dan April.

Memasuki musim pancaroba menyebabkan cuaca yang terjadi di Jakarta mengalami sedikit perubahan. Belum lama ini Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi terjadi peningkatan aktivitas pembentukan awan hujan di wilayah Jabodetabek yang berpotensi terjadi hujan disertai angin.

Kepala Bidang Komunikasi BMKG, Harry Tirto Djatmiko mengatakan, keadaan demikian akan berlangsung hingga Senin (17/6/2013) pekan depan. Memasuki musim peralihan, intensitas curah hujan memang sudah tidak terlalu besar seperti beberapa bulan sebelumnya, namun berbeda dengan angin. "Ini masih akan terjadi hingga Senin pekan depan," kata Harry, seperti dilansir Rabu (12/6/2013).

Musim pancaroba, peralihan dari musim hujan ke kemarau, berlangsung lebih panjang dibandingkan normalnya. Awal kemarau di sejumlah daerah mundur mulai dari 10 hari hingga sebulan. Demikian kata Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara BMKG Edvin Aldrian, Senin (27/5/2013), di Jakarta.

Edwin menambahkan, kondisi ini antara lain, dipengaruhi menghangatnya suhu muka laut di kawasan barat Indonesia, yaitu perairan di sekitar Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Akibatnya, curah hujan relatif tinggi di kawasan itu. "Kondisi banyak hujan akan berlangsung hingga Juni mendatang," terang Edvin.

Peningkatan suhu muka laut dibandingkan normalnya antara 0,5 derajat dan 1 derajat celsius. Hal ini yang menyebabkan banyak hujan di zona musim (ZOM) di barat Indonesia. Kondisi lokal ini lebih dominan dibandingkan regional. Di Samudra Pasifik suhu muka laut yang semula hangat kini normal.

***

Tapi ini sudah Juni, musim seharusnya sudah berganti. Pergerakan matahari mengubah peta suhu udara dan permukaan tanah dan samudera. Perbedaan suhu akan mengubah konsentrasi uap air di udara. Biasanya musim hujan terjadi pada bagian bumi yang tengah mengalami posisi zenith peredaran semu Matahari.

Ya ya, matahari memang sedang beranjak ke utara. Di utara, matahari membangkitkan tanaman yang sebelumnya dipeluk salju. Daun-daun mulai bersemi, udara hangat, mengusir gigil.

"Hujan bulan Juni, Ju..., hujan bulan Juni!" Begitu pesan Rita kepada Juha melalui SMS.

Sebuah pesan yang amat romantis sekaligus mengkhawatirkan. Ya, ya, hujan di bulan Juni selain mengandung pesan betapa musim sedang sungsang, juga senantiasa mengingatkan Juha pada larik-larik puisi karya Sapardi Djoko Damono yang amat liris itu.
Simaklah ini:

tak ada yang lebih tabah /dari hujan bulan juni /dirahasiakannya rintik rindunya /kepada pohon berbunga itu

Rita, sahabat Juha yang penulis skenario sinetron itu, tahu betul sebagian riwayat hidup Juha. Terutama yang berkait dengan romansa Juha saat suami Kokom itu jatuh cinta kepada Seruni yang aktris teater. Tiap ketemu, cuma musikalisasi puisi "Hujan Bulan Juni" itulah yang dinyanyikan Juha.

Kecuali memang indah musikalisasi garapan Ags Dwipayana (alm) untuk puisi "Hujan Bulan Juni" itu, konon percintaan Juha-Seruni juga dimulai pada bulan Juni. Sebuah lagu dan sebuah awal percintaan, ...ah, perpaduan yang melankolis bukan?

Hujan bulan Juni, atau lebih komplet lagi, hujan di bulan Juni... bukankah juga sebuah alarm yang mengkhawatirkan? Sebuah peristiwa alam yang tidak semestinya. Dari abad ke abad, manusia Indonesia menyaksikan, betapa matahari bulan Juni bergeser dari selatan menuju ke utara sehingga mengubah posisi tekanan udara menjadi rendah.

Pada bulan Juni sampai September, biasanya arus angin yang garing bertiup dari Australia yang mengakibatkan musim kemarau berlangsung di Indonesia. Sebaliknya, pada bulan Desember sampai Maret arus angin yang banyak mengandung uap air dari Asia dan samudera Pasifik - setelah melewati beberapa lautan - melintasi daerah Indonesia menuju ke benua Australia. Karenanya pada bulan-bulan ini biasanya terjadi musim hujan.

Tapi begitulah, manusia hanya bisa memperkirakan. Selebihnya, semesta punya jawaban lain atas musabab yang diperbuat manusia.

"Dan kini Jakarta malah hujan deras, Ju. Padahal ini Juni," ucap Rita setelah Juha menghubunginya lewat telepon.

Ada perasaan was-was pada nada bicara Rita. Katanya, ia merasakan denyut nadi semesta sudah mulai kacau iramanya.
"Aku takut sejarah gelap kehidupan akan segera berulang dalam waktu dekat, Ju. Kita tak harus menunggu berjuta-juta tahun ke depan untuk perubahan semesta raya seperti halnya ketika semesta memusnahkan dinosaurus," suara Rita terdengar getir.
"Seperti ketika umat Nabi Luth ditimbun oleh tanah tempat mereka berpijak," sahut Juha.
"Ya, seperti saat umat Nuh tenggelam oleh banjir bandang. O... semesta, selalu tahu saat kapan ia harus menghukum penghuninya. Kita tahu, Ju....ini semua karena perilaku kita, manusia."
"Bukankah ini bagian dari kewajaran kehidupan, Rita?"
"Ya, ya... ada siang, ada malam, ada kebaikan ada pula kejahatan."
"Bahkan ketika dunia baru dihuni oleh empat manusia keturunan Adam dan Hawa, kejahatan sudah menyertainya. Sehingga seorang putera Adam harus membunuh putera Adam lainnya."
"Penyebabnya cuma satu, nafsu! Ya nafsu angkara murka yang ingin menguasai semesta dan seisinya secara berlebihan."
"Sudah punya satu rumah, kepingin punya dua."
"Ya, atas nama kemulyaan hidup, manusia Jakarta menanami kawasan puncak dengan rumah-rumah mewah yang menyebabkan hujan turun tak bisa terserap lagi oleh akar pohonan. Hujan meluncur terus tanpa kendali yang menyebabkan warga Jakarta dan sekitarnya terendam oleh banjir."
"Demi kemewahan hidup, 13 juta kendaraan bermotor menguasai jalanan Kota Jakarta yang menyebabkan kita terimpit oleh kemacetan."

Mendengar keluh-kesah Rita, Juha langsung teringat pada cerita kawan sekantornya yang bernama Hendro yang juga merasai hal yang sama dengan Rita. Hendro mengaku panik sepulangnya dari jalan-jalan ke Tangkuban Perahu.

Ketika berjalan-jalan di Tangkuban Perahu pekan lalu, Hendro menemukan situasi yang sangat berbeda dengan saat ia berkunjung sekira lima belas tahun lalu.

Dulu, kata Hendro, saban masuk ke wilayah itu, ia melewati bukit pinus yang ijo royo-royo. Tapi kini, kata Hendro, semuanya sudah berubah. Di depan mata Hendro, adalah hamparan tanaman kol yang ditanam di atas tanah ratusan hektar tempat dulu hutan pinus menjadi pelindung sekaligus penyegar kawasan itu.

Hendro langsung tahu, ini tentu bukan perbuatan para penduduk setempat yang mampu menyulap tanah ratusan hektar tanaman pinus menjadi ladang kol dalam tempo singkat. Hendro juga tahu, ini tentu perbuatan warga kota yang memiliki modal miliaran rupiah.

Ketika Hendro berjalan ke arah Lembang, ia bertemu dengan penjaja makanan yang bercerita banyak perihal situasi di wilayah itu. Dari penjaja makanan itulah, perkiraan Hendro terbukti. Bahwa ladang itu memang milik orang kota berduit.

Kata si penjaja makanan, bulan Februari lalu wilayah itu kebanjiran. Ini katanya, baru terjadi sepanjang hidupnya. Alhasil, rumahnya dan 25 rumah lainnya diterjang banjir.

Penjaja makanan itu bilang, pemilik ladang kol hanya menyantuni 1 juta rupiah per keluarga. "Satu juta perak, ah...sebuah harga yang sungguh tidak layak untuk penyebab terjadinya perubahan kehidupan menuju kehancuran," ucap Hendro turut kecewa.

Kekhawatiran Rita dan juga Hendro, barangkali berlebihan. Sebab, tidakkah umat manusia selalu mempunyai jurus untuk menjawab tiap persoalan yang menelikungnya.

"Jawaban hanya bisa diberikan oleh manusia-manusia bijak, bukan manusia-manusia rakus. Celakanya, manusia yang rakus lebih banyak jumlahnya dari yang bijak. Itu soal kita sulit menjawab persoalan-persoalan semesta. Coba kamu pikir, Ju, apakah kita bisa menjawab soal kerusakan lingkungan akibat polusi dan eksploitasi sumber daya alam. Apakah kita bisa mengembalikan gumpalan es di kutub dan pegunungan Himalaya yang mulai mencair? Apakah kita juga antusias memperbaiki kerusakan hutan tropis yang sudah terbabat? Apakah kita mampu memperbaiki lapisan ozon yang rusak oleh polusi? Tidak, bukan?" Ucap Rita geram.

Hujan yang datang di bulan Juni masih juga deras mengguyur Jakarta. Selokan dan saluran air yang lumpurnya belum sempat dibersihkan, dengan cepat penuh oleh air. Dan jalanan berlobang yang belum sempat diperbaiki, juga dengan segera tergenang oleh air selokan yang melimpah.

Pemda di wilayah Jabotabek seperti kehabisan nafas. Belum reda mereka dihujat oleh warganya karena dinilai kurang sigap menangani banjir dan pasca banjir, kini hujan datang kembali memperparah fasilitas umum yang belum sempat tertangani.

Mendengar ucapan Rita dan juga Hendro, rasanya Juha mendapatkan kebenaran nujum para wiku macam Ronggowarsito tentang situasi dunia ketika mendekati kehancurannya. Bukankah kini banyak gunung jugruk (gundul)? Bukankah kini banyak jago yang mengasuh anak karena induknya pergi ke luar negeri jadi TKW?

Inilah kiranya salah satu yang menyebabkan turunnya hujan di bulan Juni. Tapi Juha yakin, bukan karena fenomena alam itu yang jadi sebab lahirnya puisi "Hujan Bulan Juni" karya Sapardi Djoko Damono.

Sebab penyair, selalu bisa memberi makna keindahan atas semua peristiwa yang menghampirinya. Dan hujan, adalah fenomena alam yang telah mendatangkan jutaan ide buat para penyair. Karenanya, telah lahir ribuan puisi tentang hujan. Bagi penyair, barangkali tak soal benar hujan akan jatuh di bulan Juni atau Desember. Sebab, di samping membawa bencana, hujan adalah anugerah dari Tuhan yang tak terkira indahnya. Sungguh. Inilah buktinya:

tak ada yang lebih bijak /dari hujan bulan juni /dihapusnya jejak-jejak kakinya /yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif /dari hujan bulan juni /dibiarkannya yang tak terucapkan /diserap akar pohon bunga itu

@JodhiY


Editor : Tri Wahono