Kamis, 21 Agustus 2014

News / Sains

Awal Musim Kemarau Mundur

Selasa, 28 Mei 2013 | 19:48 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Musim pancaroba, peralihan dari musim hujan ke kemarau, berlangsung lebih panjang dibandingkan normalnya. Awal kemarau di sejumlah daerah mundur mulai dari 10 hari hingga sebulan.

Demikian kata Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Edvin Aldrian, Senin (27/5/2013), di Jakarta.

Kondisi ini, antara lain, dipengaruhi menghangatnya suhu muka laut di kawasan barat Indonesia, yaitu perairan di sekitar Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Akibatnya, curah hujan relatif tinggi di kawasan itu. ”Kondisi banyak hujan akan berlangsung hingga Juni mendatang,” ucap Edvin.

Peningkatan suhu muka laut dibandingkan normalnya antara 0,5 derajat dan 1 derajat celsius. Hal ini yang menyebabkan banyak hujan di zona musim (ZOM) di barat Indonesia. Kondisi lokal ini lebih dominan dibandingkan regional. Di Samudra Pasifik suhu muka laut yang semula hangat kini normal.

Prakiraan musim yang dikeluarkan Kepala BMKG Sri Woro B Harijono, beberapa bulan lalu, menyebutkan, awal musim kemarau tahun 2013 di 342 ZOM umumnya dimulai Mei 2013, tepatnya di 110 ZOM (32,2 persen). Namun, banyak pula daerah yang mengalami kemarau pada Juni 2013, yaitu di 77 ZOM (22,5 persen).

Jika dibandingkan data selama 30 tahun (1981-2010), awal musim kemarau sama dengan rata- rata yang dialami sebagian besar daerah, yaitu 147 ZOM (43 persen). Daerah yang mundur ada 117 ZOM (34,2 persen). Sementara wilayah yang lebih cepat mengalami kemarau ada 78 ZOM (22,8 persen).

Di Pulau Jawa, dari 150 ZOM ada 62 ZOM yang lambat memasuki kemarau. Yang memasuki musim kemarau pada Juni adalah Banten, Jawa Barat bagian tengah dan selatan, Banyumas, Purbalingga, serta Banjarnegara. Adapun wilayah di Jawa Timur yang mengalami kemarau bulan depan adalah Temanggung, Salatiga, Malang, Lumajang, dan Banyuwangi. (YUN)


Editor : yunan
Sumber: