Kamis, 23 Oktober 2014

News / Sains

Sungguh, Orang Jakarta Tak Kenal Museum

Selasa, 28 Mei 2013 | 17:53 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pengetahuan masyarakat Jakarta tentang museum sangat memprihatinkan. Bahkan, masyarakat tidak banyak mengenal nama museum di Ibu Kota yang jumlahnya mencapai 68 museum. Jika nama saja tak kenal, bagaimana tahu koleksi dan mencintainya.

Hasil survei Komunitas Jelajah (Jejak Langkah Sejarah) melakukan survei pada 500 orang selama bulan Maret dan April 2013 di Jakarta. Obyek survei adalah masyarakat yang mendatangi Pondok Indah Mall, Taman Mini Indonesia Indah, Plaza Semanggi, dan beberapa lokasi lain.

Hasil survei memprihatinkan. "Dari 68 museum yang ada di Jakarta, masyarakat hanya mengenal 23 museum. Dari 23 museum, hanya lima museum yang mampu disebutkan namanya dengan benar," ungkap C Musiana Yudhawasthi, M Hum, Ketua Umum Jelajah.

Museum yang dikenal dan mampu disebutkan namanya dengan tepat di antaranya adalah Museum Satria Mandala dan Lubang Buaya. Sementara masih ada masyarakat yang tidak tahu Museum Bank Indonesia. Nama Museum Tekstil masih sering disebut Museum Batik. Padahal, Museum Batik ada di Yogyakarta.

Yang memprihatinkan, ada masyarakat yang belum mengenal Museum Nasional. "Ada yang menyebutnya Museum Gajah. Malah ada yang menyamakan Museum Nasional dengan Monas (Monumen Nasional)," kata Musiana.

Musiana menuturkan, lima museum yang dikenal dan disebutkan namanya dengan benar juga belum tentu bisa menjadi representasi pengetahuan masyarakat tentang museum tersebut. Museum itu dikenal karena banyak anak sekolah yang diwajibkan untuk mengunjunginya.

Rendahnya pengetahuan masyarakat tentang museum perlu ditingkatkan. Ditemui dalam seminar Museum dan Generasi Muda di Museum Nasional, Selasa (28/5/2013) di Jakarta, Musiana mengatakan bahwa generasi muda harus menjadi sasaran program pengenalan museum. Orang tua berperan besar.

Di sisi lain, pihak museum juga perlu mengembangkan kemampuannya menjaring pengunjung. Musiana mengungkapkan, pihak museum harus lebih kreatif dalam menata, mengemas, dan mempromosikan koleksinya.

"Misalnya tidak semua koleksi harus dikeluarkan. Ada koleksi permanen yang terus dipamerkan, tetapi ada juga koleksi yang diganti. Ada tema tertentu pada periode tertentu. Jadi, ada kebaruan juga," kata Musiana.

Ia juga mengatakan adanya peluang untuk bekerja sama dengan pihak lain untuk memamerkan koleksi. Salah satu contoh, koleksi tak harus selalu dipamerkan di dalam museum, tetapi juga bisa di dalam mal yang dikunjungi banyak orang.


Penulis: Yunanto Wiji Utomo
Editor : yunan