Minggu, 21 September 2014

News / Sains

Teka-teki Harimau Putih Terpecahkan

Senin, 27 Mei 2013 | 10:42 WIB

BEIJING, KOMPAS.com — Ilmuwan akhirnya berhasil memecahkan teka-teki harimau putih. Sebelumnya, diketahui bahwa harimau putih merupakan mutan dari jenis harimau benggala. Namun, ilmuwan belum menemukan penyebab mutasinya.

Analisis genetik yang dipimpin oleh Shu-Jin Luo dari Peking University di China berhasil menguak mutasi genetik yang menjadi penyebab munculnya harimau putih. Hasil analisis dipublikasikan di jurnal Cell, Kamis (23/5/2013).

Berdasarkan analisis tersebut, diketahui bahwa harimau putih muncul akibat mutasi gen SLC45A2. Gen ini telah menjadi penyebab warna terang pada beberapa spesies, seperti kuda putih, ayam, dan ikan.

Pada harimau benggala, gen ini menghambat ekspresi warna oranye dan merah yang menyebabkan warna oranye pada harimau bengali. Namun demikian, gen ini tidak menghambat ekspresi gen penyebab warna hitam. Oleh sebab itu, harimau putih tetap memiliki corak hitam.

Luo menemukan penyebab mutasi ini setelah menganalisis gen dari 16 harimau yang berada di Chimelong Safari Park. Bukan hanya harimau putih yang dianalisis, melainkan juga harimau oranye. Genom dipetakan dan diurutkan.

Saat ini, harimau putih hanya ada di penangkaran dan kebun binatang. Namun, sebenarnya, harimau putih dulu dijumpai di alam. "Harimau putih merupakan bagian dari keragaman genetik di alam yang layak dilestarikan, tetapi kini hanya ada di penangkaran," kata Luo.

Menurut Luo, jumlah harimau putih yang ada di alam sebenarnya dahulu melimpah. Jarangnya harimau putih dijumpai di alam saat ini adalah karena praktik perburuan. Harimau putih terakhir yang diketahui ada di alam ditembak oleh pemburu pada tahun 1958.

Harimau putih sering diasosiasikan dengan harimau cacat. Misalnya, banyak harimau putih yang punya mata juling. Menurut Luo, sebenarnya harimau putih tak terkait kecacatan tersebut. Cacat itu muncul karena ulah manusia yang menyebabkan terjadinya inbreeding.

Luo menuturkan, hasil analisis genetik ini berperan untuk menentukan langkah konservasi. Saat ini, ada rencana untuk mengintroduksi kembali harimau putih dari penangkaran ke alam bebas. Ia menilai, langkah itu kurang tepat.

Dikutip Physorg, Kamis lalu, Luo mengungkapkan bahwa lebih baik melakukan konservasi pada harimau benggala "normal" (berwarna oranye). Dari langkah tersebut, mungkin pada akhirnya bisa lahir harimau putih.


Penulis: Yunanto Wiji Utomo
Editor : yunan
Sumber: