Minggu, 23 November 2014

News / Sains

Bagaimana jika Bumi Kehilangan Bulan?

Jumat, 26 April 2013 | 18:30 WIB

KOMPAS.com — Setelah Star Wars, Star Trek, dan The Matrix, kini ada lagi satu film fiksi ilmiah berjudul Oblivion. Film yang kini masih diputar di bioskop-bioskop Indonesia itu diangkat dari komik karya Arvid Nelson dan Joseph Kosinski, yang berlatar Bumi pada tahun 2077.

Dengan aktor utama Tom Cruise, film tersebut menyuguhkan beberapa hal menarik. Misalnya, bagaimana manusia hidup di luar angkasa (orbit Bumi) serta bagaimana penerbangan luar angkasa masa depan dimungkinkan dengan pesawat satu awak.

Alkisah, dalam film tersebut, pada tahun 2017, Bumi diserang oleh alien yang dijuluki Scavenger. Satu hal menarik yang disuguhkan adalah bahwa Bulan telah dihancurkan. Bagaimana bila hal itu benar-benar terjadi?

Sebuah tulisan di Discovery, Kamis (25/4/2013), mengulas konsekuensi jika Bulan hancur itu benar-benar menjadi nyata. Dua skenario disuguhkan. Pertama, jika debris Bulan yang hancur masih ada di sekitar Bumi dan kedua bila Bulan benar-benar menghilang.

Jika Bulan hilang, tentu manusia tak dapat menyaksikan lagi bulan sabit, purnama, ataupun gerhana. Namun, jika debris Bulan masih ada di sekitar Bumi, debris itu bisa disinari Matahari. Bisa jadi, sinar terang akibat debris yang memantulkan cahaya Matahari itu melebihi purnama.

Jika debris Bulan masih ada, kemungkinan efek gravitasi yang diterima akan sama dengan efek gravitasi jika Bulan secara utuh ada. Namun, jika Bulan sama sekali hilang, efek gravitasinya pun akan hilang.

Jika gravitasi akibat Bulan tak ada, pasang akibat Bulan pun akan hilang. Fenomena pasang surut air laut masih akan terjadi, tetapi akan lebih disebabkan oleh Matahari dan akan terjadi pada siang hari.

Dampak yang perlu diwaspadai dalam jangka panjang adalah terkait perubahan poros rotasi Bumi. Diketahui, poros rotasi Bumi terus berubah, membuat Bumi berputar seperti gasing, kadang miring ke kiri dan ke kanan. Bumi tidak tegak lurus.

Salah satu yang memengaruhi poros rotasi Bumi adalah Bulan. Saat ini, perubahan poros rotasi Bumi berlangsung sangat lambat. Bila Bulan tak ada, perubahan poros rotasi Bumi akan berlangsung lebih cepat.

Tanpa Bulan, "goyangan" poros Bumi yang kini hanya berkisar 22-25 derajat akan berubah ekstrem menjadi berkisar antara 0 -85 derajat celsius. Ini akan memicu perubahan iklim cepat, membuat Bumi menjadi lebih tak stabil dan tak layak huni.

Untunglah, efek tiadanya Bulan tak berlangsung tiba-tiba, perlu jutaan tahun. Namun, jika itu benar terjadi, kehidupan hewan akan terganggu dan boleh jadi akan mengganggu kehidupan manusia. Well, untungnya lagi, Oblivion hanyalah fiksi ilmiah.


Penulis: Yunanto Wiji Utomo
Editor : yunan
Sumber: