Minggu, 26 Oktober 2014

News / Sains

Citarum Makin Kritis, Perlu Aksi Penyelamatan Nyata

Rabu, 10 April 2013 | 17:35 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Kondisi Daerah Aliran Sungai Citarum kian hari makin mengkhawatirkan. Tahun 2008, sungai ini disebut sebagai sungai paling kotor di dunia.

Arief Yuwono, Deputi Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Peribahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup, mengatakan bahwa kondisi DAS Citarum sudah sangat kritis akibat berbagai permasalahan lingkungan yang terjadi.

"Apabila  saya analogikan sungai tercemar sebagai orang yang sedang sakit. Maka, Sungai Citarum kondisinya sudah seperti seorang  pasien yang harus dirawat di ICU," kata Arief dalam acara Lokakarya Nasional Pengarusutamaan Perubahan Iklim dalam Pengelolaan DAS Citarum, Rabu (10/4/2013).

Arief menjelaskan, kondisi kritis Citarum disebabkan oleh permasalahan sosial ekonomi masyarakat, lahan kritis, banjir dan kekeringan, serta pencemaran lingkungan. Setiap hari, Citarum 'dipaksa' menampung 400 ton limbah ternak, 25.000 ton limbah sampah, dan 280 ton limbah pabrik.

Upaya-upaya penyelamatan Sungai Citarum telah dilakukan oleh berbagai pihak yang berkepentingan. Berbagai produk hasil kajian seperti roadmap, Rencana Aksi Nasional, Rencana Aksi Daerah telah dihasilkan melalui berbagai pertemuan dengan berbagai stakeholder.

Namun, menurut Emil Salim, pakar lingkungan hidup di Indonesia, upaya-upaya tersebut masih belum cukup untuk mengatasi permasalahan Sungai Citarum. Para stakeholder harus bersinergi menciptakan program yang diwujudkan dalam sebuah tindakan nyata.

"Sekarang adalah saatnya bergerak. Bukan lagi hanya melakukan berbagai studi dan diskusi terkait Sungai Citarum seperti yang dilakukan selama ini. Saat ini kita harus melakukan tindakan nyata untuk menyelamatkan sungai Citarum," ungkap Emil.

Arief menambahkan, peran Sungai Citarum bagi masyarakat Jawa Barat dan DKI Jakarta tidak bisa dipandang sebelah mata. Bagi masyarakat Jawa Barat, sungai ini berperan penting dalam berbagai aspek kehidupan seperti pertanian, perindustrian, domestik dan sebagainya. Sedangkan, bagi warga DKI Jakarta, Sungai Citarum menyuplai kebutuhan 30% pemanfaat air baku di Jakarta.

Mengingat pentingnya peran DAS Citarum bagi kehidupan masyarakat Jawa Barat dan DKI Jakarta, Arief berharap pemerintah kedua provinsi bisa bersinergi dalam penyelamatan sungai tersebut.

"Seharusnya hal yang menjadi target utama bagi gubernur Jawa Barat yang baru terpilih adalah memperbaiki kondisi DAS Citarum. Karena dengan kondisi Citarum yang baik, maka semua aspek kehidupan masyarakat Jawa Barat akan menjadi lebih baik," Ujar Arief.

"Disamping itu, DKI Jakarta sebagai pemanfaat air Citarum juga sebaiknya ikut berkontribusi dalam upaya pengelolaan sungai ini," tandasnya.


Penulis: Fifi Dwi Pratiwi
Editor : yunan