Selasa, 16 September 2014

News /

KEKAYAAN BUDAYA

Anyaman Suku Dayak Terbaik di Dunia

Sabtu, 23 Maret 2013 | 03:07 WIB

JAKARTA, KOMPAS - Anyaman tradisional suku Dayak di Kalimantan memiliki pesona tersendiri yang selama ini diabaikan. Dibandingkan dengan anyaman suku lain, anyaman Dayak membutuhkan teknik pengerjaan yang tinggi karena tingkat kompleksitasnya. Desain yang rumit serta motif yang beragam dan kaya warna membuat anyaman ini disebut sebagai anyaman terbaik di dunia.

”Anyaman Dayak terbaik bersama dengan anyaman Meksiko. Bahan bakunya sukar dibentuk dan didapat, seperti bambu, rotan, nipah, dan daun pandan. Sayang, eksistensinya kian tergerus dan terancam punah,” ujar John McGlynn, pendiri Yayasan Lontar, saat jumpa pers Festival Seni Anyam Adi Kriya Kalimantan dan peluncuran buku Plaited Arts from the Borneo Rainforest, di Bentara Budaya Jakarta, Jumat (22/3).

Menurut McGlynn, jika penggerusan terus terjadi, identitas bangsa akan hilang. ”Jika pembangunan hanya membangun infrastruktur, tetapi melupakan akar kebudayaan, niscaya jalan dan jembatan yang dibangun hanya akan menjadi jalan masyarakat untuk meninggalkan budayanya,” ujar McGlynn.

Saat ini, hanya orangtua yang berusia di atas 40 tahun yang mampu menganyam dengan baik. Anak muda nyaris kehilangan kemampuan menganyam.

Ika Burhan, peneliti yang melakukan ekspedisi selama delapan hari di komunitas Dayak Kenyah dan Bahau di Long Bagun, Kalimantan Timur, mengatakan, banyak anak muda Dayak lebih memilih bekerja di pertambangan atau perkebunan.

Gerusan budaya semakin diperparah oleh masuknya produk plastik berharga murah sehingga masyarakat Dayak banyak yang memilih menggunakan tikar, tudung, atau bakul yang terbuat dari plastik. Selain itu, hutan Kalimantan juga telah beralih fungsi menjadi hutan produksi kelapa sawit yang menyebabkan bahan baku menjadi sulit didapat.

Segera lestarikan

Ketua Yayasan Bhakti Total Bagi Indonesia Lestari Eddy Mulyadi memandang perlu ada langkah nyata mempertahankan eksistensi anyaman ini. Untuk itu, pihaknya berupaya terus mempromosikan anyaman ini, baik di dalam maupun luar negeri. ”Anyaman bukanlah barang hasil kerajinan semata. Anyaman merupakan karya yang dihasilkan dari satu ingatan akan leluhur,” ujarnya.

Wiediantoro, seorang pekerja seni, menyarankan agar dibuat museum khusus untuk anyaman-anyaman tradisional Indonesia. ”Kehadiran museum akan menjadi langkah pendokumentasian. Akan jelas mana yang memang hasil kebudayaan Indonesia. Jangan ada lagi kebudayaan yang dicuri,” sarannya.

Festival Seni Anyam Adi Kriya Kalimantan ini akan berlangsung pada 27 Maret-7 April 2013. Pada 6 April malam, diadakan pesta budaya yang berisi tarian permainan, musik sampek, dan kehadiran pemuka adat Dayak. Pengunjung juga dapat membeli buku Plaited Arts from the Borneo Rainforest yang merupakan hasil riset 20 tahun sejumlah peneliti dari 12 negara. (K03)


Editor :