Senin, 24 November 2014

News / Sains

Penghematan Air Berawal dari Rumah Tangga

Kamis, 21 Maret 2013 | 16:02 WIB

KOMPAS.com - Hari Air Sedunia tiap tanggal 22 Maret menjadi momentum untuk kembali menyadari pentingnya air bersih bagi  kehidupan manusia. Mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup Erna Witoelar mengingatkan hal tersebut pada Kamis (21/2013).  Menurutnya, setiap hari, khususnya di Indonesia, semua pihak mesti bersama-sama menjaga kualitas air dengan berbagai upaya.

Berangkat dari ide itulah, sebagaimana disampaikan oleh dua pegiat Komunitas Ibu Bercahaya (Bersih, Cermat, Ramah, dan  Berdaya) Aan Rianawati dan Sere Rohana Napitupulu, ibu menjadi salah satu peran sentral pelopor penghematan air.  "Penghematan air memang bisa dimulai dari rumah tangga,"kata Aan.

Dalam lingkup di ibu kota Jakarta misalnya, catatan menunjukkan kalau kebutuhan air bersih ke depan bukannya susut. Dewan  Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta dalam perhitungannya kemarin mengatakan ada kebutuhan air bersih hingga 29,6 meter kubik  per detik, kini. Asumsinya, jumlah penduduk Jakarta 9,6 juta jiwa. Namun, suplai air bersih baru menyentuh angka 18,7 meter kubik per detik.

Masih menurut data SDA, Pulau Jawa yang menjadi tempat tinggal 65 persen dari sekitar 230 juta penduduk Indonesia ternyata  justru minim sumber air. Sampai kini, cuma ada 4,5 persen cadangan air nasional di Pulau Jawa.

Kenyataannya, penduduk Jakarta yang mendapat air bersih dari perusahaan air minum lebih sedikit jumlah dari warga yang  memperoleh air bersih dari sumur tanah. Inilah yang menjadi tantangan tersendiri bagi Komunitas Ibu Bercahaya seperti  diisyaratkan baik oleh Aan maupun Sere.

Mencuci pakaian

Kemudian, penghematan air berangkat dari rumah tangga, imbuh Aan, bisa berawal dari kebiasaan mencuci pakaian. Pasalnya,  kegiatan rumah tangga inilah yang acap menjadi sumber pemborosan air bersih. "Soalnya, membilas cucian kan sering lebih  dari satu kali,"kata Sere menambahkan.

Sementara itu, dalam kesempatan sama, Koordinator Proyek Komunitas Ibu Bercahaya Risyantie Wulansari mengungkapkan  teknologi menjadi salah satu cara untuk mewujudkan penghematan air. Dalam kaitan ini, pihaknya, Unilever Indonesia,  memperkenalkan, salah satunya, Molto Ultra sekali bilas. Produk yang sudah dilengkapi dengan teknologi penghilang busa ini  dapat menghilangkan busa saat proses pertama pembilasan. "Paling tidak ada penghematan air 20 liter dari setiap pencucian," tutur Sere.  

Lebih lanjut, dalam penjelasan Aan dan Sere, penghematan air di rumah tangga sejatinya bisa menjelar ke berbagai  penghematan lainnya. Pengalaman Aan yang sampai kini menggunakan pompa sumur elektronik menunjukkan, lantaran terbiasa  menghemat air, pembayaran ongkos listrik bisa irit hingga Rp 50.000 per bulannya.

Berbicara tentang kegiatan komunitas, Sere menuturkan adanya target 100.000 kader baru ke depan. Dengan demikian,  pencapaian ini mampu membuat sejuta rumah bercahaya.

Tak cuma itu, komunitas yang relatif muda usianya ini juga mematok terwujudnya satu juta biopori sebagai bagian dari upaya  menjaga kelestarian air dan lingkungan. "Kalau penghematan air, kami menargetkan satu miliar liter setahun,"demikian Aan  Rianawati.

 


Penulis: Josephus Primus
Editor : Josephus Primus