Kamis, 23 Oktober 2014

News / Sains

Wahana Jelajah Angkasa, Intip Semesta Tanpa Teleskop

Rabu, 13 Maret 2013 | 15:37 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Keinginan belajar astronomi sering kali terbentur akses dan fasilitas. Namun, kini belajar astronomi bisa lebih mudah. Ada Wahana Jelajah Angkasa (World Wide Telescope) yang terwujud dari kerja sama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan Microsoft Indonesia.

Ari Santoso, Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (Pustekkom) Kemendikbud, dalam acara peresmian Wahana Jelajah Angkasa pada Rabu (13/3/2013), mengatakan, wahana tersebut biasa diakses siapa pun dan kapan pun.

"Para siswa atau guru yang ingin belajar astronomi menggunakan fasilitas ini bisa datang langsung ke gedung Pustekkom Kemendikbud. Namun, untuk yang tidak bisa datang ke Pustekkom, bisa mengakses secara langsung via internet dengan membuka portal Rumah Belajar," jelas Ari.

Wahana Jelajah Angkasa terintegrasi dengan situs web yang diprakarsai Kemendikbud, Rumah Belajar. Untuk menjelajahi angkasa lewat portal tersebut, peminat cukup membuka laman belajar.kemdikbud.go.id/wwt.

Andreas Diantoro, Presiden Direktur Microsoft Indonesia, menjelaskan bahwa Wahana Jelajah Angkasa adalah aplikasi buatan Microsoft. Aplikasi ini menyuguhkan 50 juta gambar tentang beragam obyek yang ditemukan di angkasa berdasarkan hasil penelitian NASA sejak tahun 1970.

Siswa dan guru yang mengakses aplikasi ini tidak hanya bisa melihat gambar, tetapi juga bisa menggali informasi tentang obyek langit itu. Wahana ini telah terhubung dengan portal Wikipedia Indonesia.

Lewat aplikasi ini, pengunjung bisa mengetahui beragam rasi bintang dan planet. Bisa juga dilihat hasil studi beberapa teleskop mutakhir, seperti teleskop antariksa Hubble dan Wide-field Infrared Survey Explorer (WISE)

Aplikasi ini bisa dinikmati dengan beragam browser. Sebagai pendukung aplikasi ini, pengguna wajib mengunduh aplikasi Microsoft Silverlight terlebih dahulu. Setelahnya, pengguna bisa mulai menjelajah.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh yang hadir dalam peresmian mengungkapkan, terciptanya wahana ini merupakan satu pencapaian penting pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam proses pembelajaran.

"Teknologi informasi dan komunikasi ke depannya diharapkan tidak hanya menjadi pendorong dan penarik dalam konteks pengembangan pembelajaran, tapi juga menjadi enabler (pemungkin) yang membuat berbagai hal yang semula tak mungkin dilakukan menjadi bisa dilakukan," kata Nuh.

"Terwujudnya wahana ini adalah bukti nyata peran TIK sebagai enabler. Para siswa yang semula sulit mengakses informasi tentang luar angkasa yang dimiliki NASA, kini menjadi mungkin," imbuh Nuh.

Ke depan, Nuh bergarap para guru mampu memanfaatkan aplikasi ini mengembangkan materi ajar. Para siswa juga diharapkan bisa memanfaatkannya untuk meningkatkan minat dan mempelajari astronomi lebih dalam.


Penulis: Fifi Dwi Pratiwi
Editor : yunan