Rabu, 1 Oktober 2014

News / Sains

Raja Richard III Ternyata Seorang "Control Freak"

Rabu, 6 Maret 2013 | 14:42 WIB

LEICESTER, KOMPAS.com – Tulang belulang milik Raja Richard III yang berkuasa di Inggris 5 abad lalu berhasil ditemukan lewat penggalian di Leicester, Inggris. Analisis tulang tengkorak lalu juga berhasil mengungkap bahwa Richard III tak kalah tampan dengan Keanu Reeves.

Kini, fakta baru tentang raja yang tewas di pertempuran Battle of Bosworth tahun 1485 berjasil dikuak. Analisis psikologis menunjukkan bahwa sifat Ricjard III tidaklah seburuk yang digambarkan Shakespeare dalam salah satu karyanya.

Mark Lansdale dan Julian Boon, psikolog dari University of Leicester melakukan kajian psikologis berdasarkan fosil dan data-data tentang Richard III. Mereka menyatakan, tak ada bukti yang bisa menunjukkan bahwa Richard III adalah seorang narsis, licik, sembrono dan tak punya empati.

Diberitakan Livescience, Senin (4/3/2013), Landsdale dan Boon menyatakan, tak ada sifat psikopat da;am diri Richard III. Mereka justru menemukan bahwa Richard III memiliki sindrom “tidak toleran pada ketidakpastian” (intolerant of uncertainty).

Menurut kedua peneliti tersebut, orang yang mengidap sindrom itu biasanya memiliki sifat yang sangat penurut, loyal, dan berpendirian yang kuat. Orang dengan sindrom itu sangat percaya akan hal-hal yang menurut mereka benar.

Lebih lanjut, orang dengan sindrom intolerant of uncertainty biasanya juga seorang "control freak". Richard III memiliki sifat yang suka mengatur dan akan bereaksi keras jika loyalitasnya dikhianati.

Menurut Lansdale, sifat yang dimiliki oleh Raja Richard III muncul akibat kehidupan di masa kecilnya yang penuh dengan ketidaknyamanan. Richard III harus menghabiskan masa kecilnya pada periode Perang Mawar, tahun 1455-1487 M.

Landsdale mengakui, upaya mengungkap sifat Richard III menantang. "Kami menemukan kesulitan saat menarik kesimpulan tentang seseorang yang hidup 500 tahun lalu dengan catatan valid minim. Sebab psikologi adalah bagian dari sains sehingga sangat bergantung pada hasil observasi,” katanya.

Namun, pendekatan psikologi penting dalam mengungkap sejarah tentang raja ini. "Kami berpendapat bahwa pendekatan psikologi bisa memberikan perspektif berbeda dan baru. Pendekatan ini menawarkan cara berpikir berbeda tentang sosok manusia di balik kerangka yang menyelimutinya,” jelasnya.


Penulis: Fifi Dwi Pratiwi
Editor : yunan
Sumber: