Rabu, 1 Oktober 2014

News / Sains

Efek Coriolis Hadang Bibit Badai

Jumat, 1 Februari 2013 | 10:35 WIB

Oleh NAWA TUNGGAL

KOMPAS.com - Hingga 31 Januari 2013, peta arus angin yang dipublikasikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menunjukkan pusat tekanan rendah di Samudra Hindia barat daya Lampung. Keadaan serupa berlangsung berhari-hari, tetapi tak pernah meningkat intensitasnya menjadi badai atau siklon tropis yang meluluhlantakkan daratan Indonesia.

Pusat tekanan rendah pada peta arus angin (streamline) itu diberi label ”L”, singkatan dari low pressure. Pusat tekanan rendah yang berpotensi meningkat menjadi siklon tropis itu tak ubahnya seperti di perairan timur Filipina yang menjadi mesin pembangkit siklon tropis. Namun, di wilayah Indonesia lebih beruntung karena tak pernah tumbuh jadi siklon tropis.

”Pusat tekanan rendah di barat daya Lampung lebih dekat khatulistiwa sehingga terkena efek Coriolis dan tak pernah meningkat intensitasnya menjadi siklon tropis,” kata Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Edvin Aldrian, Minggu (27/1/2013), di Jakarta.

Efek Coriolis merupakan pembelokan arah sesuatu (benda) yang bergerak ketika dilihat dari bidang yang berputar. Gerakan itu sebenarnya relatif lurus.

Terkait cuaca, Edvin mengatakan, beberapa hari sebelumnya sempat terjadi pusat tekanan rendah kembar di selatan dan utara Sumatera. Hal ini menyebabkan peningkatan aktivitas pertumbuhan awan hingga mendatangkan hujan lebat di sejumlah wilayah Sumatera yang memicu banjir dan longsor.

Pada Minggu dini hari itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, hujan lebat mengakibatkan tanah longsor di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Longsor yang terjadi sekitar pukul 04.45 di Desa Kampung Dukuh Nagari Tanjung Sani menimbun 15 rumah dan 25 orang.

Di wilayah Kabupaten Kerinci, Jambi, juga terjadi hujan lebat hingga menimbulkan longsor di kawasan pengeboran untuk eksplorasi panas bumi yang menewaskan lima orang.

Dari kondisi yang tak sampai meningkat menjadi siklon tropis saja hujan meningkatkan ancaman banjir dan longsor. Ini menandakan lingkungan sudah tak lagi memiliki daya dukung memadai.

Modifikasi cuaca

Pada sisi lain, pusat tekanan rendah di barat daya Lampung kerap sekaligus menjadi ujung sisi barat pumpunan angin memanjang ke timur. Di sepanjang wilayah yang dilalui pumpunan angin itu, termasuk di Jakarta dan sekitarnya, terjadi pusat pertumbuhan awan hujan. Pumpunan awan itu juga dimanfaatkan untuk informasi penerapan teknologi modifikasi cuaca.

”Awan yang bergerak menuju Jakarta dan memungkinkan banjir itu bisa dijatuhkan sebelumnya di Selat Sunda,” kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Hujan Buatan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Heru Widodo.

Metode teknologi modifikasi cuaca itu melalui proses jumping atau lompatan dengan menjatuhkan awan hujan sebelum memasuki wilayah yang ingin dihindarkan dari hujan, seperti Jakarta. Ditambah lagi, metode kompetisi awan dengan pembuyaran awan hujan dari sejumlah titik wilayah di daratan, seperti di Jakarta bagian selatan sampai Puncak, Bogor.

”Metode proses jumping dan kompetisi awan dalam teknologi modifikasi cuaca ini mengurangi lebih dari 30 persen potensi curah hujan,” kata Heru.

Informasi streamline jadi sangat berharga untuk memutuskan daerah awan yang harus diturunkan menjadi hujan terlebih dahulu. Pusat tekanan rendah di barat daya Lampung menjadi titik awal pumpunan awan memanjang ke timur.

Heru menuturkan, pada Rabu (30/1/2013) pagi dirinya sempat dipanggil Kepala BPPT untuk dimintai kepastian kemampuan dalam menerapkan teknologi modifikasi cuaca. Hal ini karena Jakarta pagi itu diliputi mendung tebal dan sejumlah media daring (online) memberitakan informasi yang menyangsikan teknologi modifikasi cuaca tersebut.

”Mendung tebal waktu itu diyakini bisa menimbulkan banjir di Jakarta. Pukul 10.00, pesawat kami menyemaikan garam dapur untuk menjatuhkan hujan di Selat Sunda,” kata Heru.

Alhasil, Rabu siang, di Jakarta menjadi sangat terik, berbeda drastis dengan beberapa jam sebelumnya yang gelap karena mendung tebal. ”Teknologi modifikasi cuaca mampu mengalihkan hujan yang akan jatuh di Jakarta,” kata Heru.

Memberi pemahaman

Adanya peta streamline—terutama ditunjukkannya pumpunan awan yang terbentuk dari lokasi pusat tekanan rendah barat daya Lampung—itu memberi pemahaman proses jumping penerapan teknologi modifikasi cuaca. Arah awan dapat diperkirakan sehingga menghindarkan hujan di Jakarta dan dapat ditentukan wilayah-wilayah yang harus dihujankan lebih dulu.

Edvin Aldrian mengatakan, hal serupa terjadi di wilayah timur Australia. Pada saat bersamaan, pusat tekanan rendah di sana mendatangkan hujan lebat di wilayah Negara Bagian Queensland dan New South Wales.

Menariknya, kejadian hampir bersamaan dengan beberapa pusat tekanan rendah, baik di utara maupun selatan Sumatera serta di timur Australia. Ini membuyarkan konsentrasi energi yang bisa menjadi siklon tropis.

Area pusat tekanan rendah biasanya memiliki kecepatan angin hingga 62 kilometer per jam. Ketika mencapai 119 kilometer per jam, maka berubah menjadi siklon tropis.

Kondisi yang memungkinkan terjadinya badai tropis itu, antara lain, suhu muka air laut minimal 26,5 derajat celsius. Muka laut kira-kira memiliki kedalaman sampai 50 meter.

Periode terakhir, 1-4 Februari 2013, BMKG memperkirakan streamline sudah berubah dibandingkan sehari sebelumnya. Pada periode itu, pusat tekanan rendah di barat daya Lampung memudar. Namun, pumpunan awan serupa masih memanjang dari pesisir barat Sumatera bagian selatan menuju Laut Banda hingga Laut Aru.

Aktivitas pertumbuhan awan terus berlangsung di wilayah Sumatera bagian selatan, Jawa bagian barat, Kalimantan, Sulawesi bagian selatan, Maluku Utara, Maluku, serta Papua.

Tersebarnya pusat-pusat tekanan rendah hingga tak mampu meningkat menjadi siklon tropis, seperti akhir-akhir ini, menjadi berkah tersendiri bagi Indonesia. Di sisi lain, daya dukung lingkungan harus dijaga.


Editor : yunan
Sumber: