Jumat, 24 Oktober 2014

News / Sains

Gajah Kerdil Indonesia, Aman tetapi Juga Rawan

Kamis, 31 Januari 2013 | 09:24 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Keberadaan gajah kerdil atau gajah borneo di Kalimantan masih relatif aman. Belum terjadi konflik berarti karena habitatnya relatif mendukung.

Namun, bisa jadi kebutuhan lahan untuk perkebunan atau pertambangan membuat gajah borneo di Kalimantan bernasib sama seperti gajah sumatera di Sumatera dan gajah borneo di Sabah yang tewas diracun.

”Gajah hidup di dataran rendah. Di sisi lain, dataran rendah disukai perkebunan. Ini perlu diantisipasi,” kata Darori, Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan, Rabu (30/1/2013), di Medan, Sumatera Utara.

Sebulan ini di Sabah, Malaysia, 10 gajah kerdil (Elephas maximus borneensis) tewas diracun. Jenis gajah terancam punah ini juga ada di hutan Kalimantan, wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia.

Di Sumatera, pada 2012, setidaknya 17 gajah sumatera ditemukan mati diracun di dekat areal perkebunan dari Riau hingga Aceh. Hingga kini belum ada satu tersangka pun.

Menurut Darori, hutan di perbatasan Indonesia sebagian besar di kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang (Kaltim) dan TN Danau Sentarum (Kalbar). Namun, areal taman nasional itu pun diincar untuk hutan produksi atau perkebunan.

Koordinator Wilayah Kalimantan Timur WWF-Indonesia Wiwin Effendy mengatakan, konflik gajah dengan manusia di Kalimantan tak sampai menimbulkan korban jiwa. Warga lokal menghargai gajah. ”Ketika merebahkan tanaman, dibiarkan saja. Diusir pun tidak,” katanya.

Studi populasi WWF Indonesia, jumlah gajah kerdil di Kaltim, khususnya di Nunukan, 20-80 gajah. Gajah-gajah ini biasa memasuki 10 desa sekitar hutan. Secara fisik, gajah borneo lebih bulat dengan tinggi rata-rata 2,5 meter, daun telinga lebar, dan belalai lebih panjang dibandingkan gajah umumnya. (ICH)


Editor : yunan
Sumber: