Sabtu, 30 Agustus 2014

News / Sains

Manusia Doyan Bohong sejak Usia Empat Tahun

Selasa, 22 Januari 2013 | 14:53 WIB

KOMPAS.com — Dunia olahraga digemparkan oleh pengakuan pesepeda asal Amerika Serikat, Lance Armstrong, yang menyatakan pernah mengonsumsi doping. Kegemparan bukan hanya karena ini menyebabkan tujuh gelar Tour de France Armstrong dicabut, melainkan juga kebohongan yang diciptakannya.

Meski demikian, para pakar menyatakan bahwa bohong adalah hal alami yang dilakukan semua manusia. Kita, manusia, bahkan sudah mulai berbohong sejak usia empat tahun. Kebohongan itu dilakukan manusia beberapa kali dalam sehari.

Menurut Robert Feldman, dekan dari ilmu sosial dan perilaku dari University of Massachusetts di Amherst, AS, bohong dilakukan karena manjur. "Kita biasanya lancar berbohong setiap saat. Biasanya berupa bohong-bohong kecil," ujar Feldman yang mencontohkan bohong kecil seperti memuji penampilan seseorang, Senin (21/1/2013).

Psikolog dan ahli saraf menemukan bahwa menipu seseorang biasanya menekan mental seseorang. Usaha untuk menyatukan kejujuran dan kebohongan membutuhkan usaha otak yang lebih keras.

Mempertahankan kebohongan selama tahunan dan menyangkal semua bukti yang berisi kebenaran membuat seseorang harus merancang semacam infrastrukstur di sekitarnya. Seiring berjalannya waktu, hal ini jadi semakin mudah dilakukan.

"Kita memiliki kapasitas luar biasa untuk meyakinkan diri sendiri bahwa yang kita lakukan adalah bukannya suatu kebohongan," ujar Daniel Ariely, penulis buku The (Honest) Truth About Dishonesty.

Fakta lain yang dikemukakan adalah dalam percakapan selama sepuluh menit antara dua orang asing, 60 persennya pasti langsung berbohong. Demikian data tambahan yang pernah dirilis Feldman dalam jurnal Basic and Applied Social Psychology pada tahun 2002 lalu.

Perbedaan lain mengenai berbohong antara laki-laki dan perempuan adalah kaum Adam biasanya berbohong untuk membuat diri mereka nyaman. Sebaliknya, kaum Hawa berbohong agar membuat pasangan bicaranya nyaman. (Zika Zakiya/National Geographic Indonesia)


Editor : yunan
Sumber: