Senin, 22 September 2014

News /

Ikan di Teluk Lampung Mati

Senin, 17 Desember 2012 | 05:23 WIB

Gedong Tataan, Kompas - Ribuan ikan budidaya di keramba jaring apung di Kabupaten Pesawaran, Lampung, mati dalam sepekan terakhir. Hal ini diduga akibat fenomena red tide atau ledakan populasi plankton. Indikasinya, perairan berubah warna dari biru menjadi kecoklatan.

Seperti terpantau pada Sabtu (15/12), permukaan air di sebagian perairan Pantai Ringgung, Teluk Lampung, terlihat keruh kecoklatan. Di beberapa titik warnanya bahkan merah pekat dan jarak pandang ke dalam laut kurang dari 1 meter.

Kondisi perubahan ekosistem ini membahayakan biota laut di sana. Ikan-ikan liar dan hasil budidaya di keramba jaring apung di sekitar Ringgung mati satu per satu. Padahal, ikan-ikan yang dibudidayakan di sini merupakan komoditas ekspor, misalnya kerapu bebek yang bisa dihargai 25 dollar AS per ekor.

Syarif Hidayat (35), salah seorang pembudidaya kerapu, mengaku terpukul karena sekitar 100 ikan kerapu bebeknya yang berumur 4 bulan satu per satu mati dalam beberapa hari terakhir. ”Tujuh tahun saya tekuni bisnis ini, baru seperti ini,” ujarnya.

Akibat air keruh itu, ribuan ikan cobia (Rachycentron canadum) dan kerapu bebek milik Ginta (49), pembudidaya kerapu lainnya, juga mati. Ginta berpotensi merugi hingga ratusan juta rupiah. Tak hanya tercemar, peluang kerapu hidup hingga dewasa hanya 10-30 persen.

Ali Al-Hadar, Ketua Forum Komunikasi Kerapu Lampung, di Ringgung, mengatakan, kerugian pembudidaya mencapai miliaran rupiah. Di Ringgung terdapat 2.204 keramba yang dimiliki 53 pengusaha. Belum diketahui pasti pemicu fenomena itu.

”Instansi terkait masih meneliti sampel air,” tuturnya. Sempat muncul dugaan bahwa fenomena itu merupakan dampak pencemaran limbah industri atau aktivitas pengerukan alur laut di Pelabuhan Panjang.

Pasang merah

Namun, Muawanah, Penyelia Laboratorium Kualitas Air Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut Lampung, mengatakan, perubahan warna air laut dan kematian ikan-ikan budidaya di Ringgung itu akibat red tide. Ini fenomena alam berupa meledaknya populasi plankton Cochlodinium polykrikoides.

”Plankton ini mulai terdeteksi di Teluk Hurun, Lampung Selatan, 17 Oktober lalu. Populasinya naik turun,” katanya.

Dalam jumlah berlimpah, plankton ini dapat mengganggu dan mengakibatkan kematian pada ikan. Sebab, plankton ini mudah menempel pada insang ikan dan mengakibatkan ikan mati lemas karena kekurangan oksigen. Plankton ini juga mengandung toksin paralitik dan neurotoksik, yang bisa mengakibatkan pusing dan nyeri pada persendian manusia. (JON)


Editor :