Dampak Perubahan Iklim di Depan Mata - Kompas.com

Dampak Perubahan Iklim di Depan Mata

Kompas.com - 15/12/2012, 03:20 WIB

Jakarta, Kompas - Bencana alam, terutama disebabkan oleh hidrometeorologi, menjadi ancaman serius tiap bangsa. Dibutuhkan solidaritas bersama untuk menghadapinya.

Berdasar Data dan Informasi Bencana Indonesia (DIBI), selama tahun 1815-2011 terjadi 11.910 bencana yang menyebabkan 329.585 orang meninggal dan hilang serta lebih dari 15,8 juta orang mengungsi. Dari kejadian bencana itu, 77 persen adalah bencana hidrometeorologi, 3 persen bencana geologi, dan sisanya bencana karena ulah manusia dan biologi. Bencana hidrometeorologi adalah bencana yang dipengaruhi aspek cuaca seperti banjir, kekeringan, tanah longsor, cuaca ekstrem, dan puting beliung.

”Saya dulu ragu apakah terjadi perubahan iklim atau tidak. Belakangan saya makin yakin, dampak perubahan iklim sudah hadir hingga ke tempat kita,” kata Sudibyakto, Guru Besar Hidrologi, Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat (14/12), dihubungi dari Jakarta.

Peneliti di Pusat Studi Bencana UGM ini menilai, peningkatan bencana hidrometeorologi di dunia, termasuk di Indonesia, dipicu perubahan iklim, selain faktor kerusakan lingkungan. Menurut Sudibyakto, ada bukti-bukti tak terbantahkan tentang kenaikan suhu udara di Indonesia. Dalam kurun 50-100 tahun, data di Stasiun Meteorologi Jakarta, Kupang, Makassar, dan Medan menunjukkan kenaikan suhu rata-rata 0,6 derajat celsius.

Sudibyakto berharap, seluruh pemerintah daerah mulai menyusun strategi adaptasi dan mitigasi. Sebagai contoh, jika di suatu daerah pesisir berkembang pariwisata, apakah sudah disusun strategi adaptasi dari kenaikan muka air laut. ”Di pantai utara Jawa, kenaikan muka air laut kira-kira 12 cm dalam 20 tahun,” katanya.

Solidaritas ASEAN

Direktur Eksekutif ASEAN Coordinating Centre for Humanitarian Assistance on Disaster Management (AHA-Centre) Said Faisal menyebutkan, bencana yang dominan terjadi di ASEAN adalah hidrometeorologi. ”Banjir merupakan bencana yang kerap terjadi di ASEAN,” katanya. ”Selain itu topan seperti yang terjadi di Filipina baru-baru ini.”

Menurut Said, AHA-Centre yang berkantor pusat di Jakarta didirikan terkait dengan semakin tingginya intensitas bencana. ”Kita membangun solidaritas ASEAN. Saat ini masih ke respons darurat. Ke depan bisa saja masuk ke pemulihan pascabencana,” katanya. (AIK)

Editor
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM