Rabu, 27 Agustus 2014

News / Regional

Candi di Sawah Lamongan, Situs Candi Slumpang

Senin, 26 November 2012 | 09:53 WIB

LAMONGAN, KOMPAS.com - Bangunan candi yang ditemukan di tengah areal persawahan Desa Siser Kecamatan Laren Kabupaten Lamongan merupakan Situs Candi Slumpang.

Pemerhati budaya, Supriyo dari Cakra Budaya dan Lembaga Studi Advokasi dan Pembaruan Sosial (LSAPS) Lamongan, menyebutkan penggalian itu atas usulan lembaganya. Secara kronologis, sekitar Juli 2010 saat membajak dan membuat pematang, bajak dan cangkul penggarap sawah Warsian membentur benda keras.

Setelah dicek ternyata membentur bongkahan bata yang bentuknya rapi. Selanjutnya temuan itu dilaporkan ke Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Trowulan Mojokerto, Balai Arkelogi, dan Pemerintah Kabupaten Lamongan.

Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Lamongan meninjau lokasi dilanjutkan survei dari BP3 Trowulan. Pada 2011 LSAPS mengajukan penggalian ke Pemkab Lamongan. Pada 2012 ada pengajuan dukungan dari BP3 Trowulan dilanjutkan survei praekskavasi.

Penggalian tahap awal dilakukan pada 19-25 November oleh LSAPS dan Balai Pelestarian Cagar Budaya Trowulan dengan dana Pemkab Lamongan. Supriyo, Senin (26/11) menegaskan situs Candi Slumpang merupakan salah satu peninggalan bersejarah di Lamongan.

Bangunan candi itu digunakan untuk pemujaan demi kesuburan tanah yang ditandai lingga yoni. Pemujaan terhadap kesuburan tanah itu juga bisa dilihat dari lokasi candi di daerah subur dan potensial untuk pengembangan pertanian.

Wilayah sekitar candi yang ada di sekitar Bengawan Solo dulunya menjadi sentra ekonomi kerajaan dan menjadi basis sumber pangan sampai kini. Akan tetatpi hingga kini belum ditemukan prasasti terkait Candi Slumpang.

Prasasti yang ditemukan selama ini lebih banyak terkait dengan Airlangga. Namun temuan candi Slumpang jika dikaitkan dengan keberadaan candi dekat Bengawan Solo, di era Majapahit dalam prasasti canggu disebutkan ada naditira pradesa. Maksudnya desa yang punya otonomi dan bebas dari pajak dan punya hak dan kewajiban mengelola penyeberangan sungai.

Nama desa dalam prasasti itu ada sampai kini termasuk tambangan (penyeberangan sungai). Diantara titik tambangan itu Widang (Tubab)-Babat (Lamongan), Kendal (Sekaran),Pasiwuran kini Siwuran (Maduran),Wareng kini Parengan (Maduran), Parijik kini Prijek (Laren)-Karanggeneng, Sambo (Karangbinangun), Blawi (Glagah).

"Ada hubungan antara tambangan Siwuran (Maduran) dengan Candi Slumpang di Siser (Laren). Diperkirakan masyarakat di sekitar Bengawan Solo utamanya di sisi selatan sungai menyeberang melalui Siwuran untuk melakukan pemujaan kesuburan," papar Supriyo. 


Penulis: Adi Sucipto
Editor : Robert Adhi Ksp