Sabtu, 26 Juli 2014

News /

KEMAH KONSERVASI

Menganalisis Hutan Pegunungan Muria

Selasa, 13 November 2012 | 03:30 WIB

Dulu sebagian besar hutan di Pegunungan Muria, Jawa Tengah, lebat dan penuh dengan hewan seperti monyet dan ular. Kini, setelah era reformasi, sebagian dari hutan itu gundul. Sungai di lekukan-lekukannya sudah kotor dan berwarna coklat, bahkan ada yang tanpa air.

Kawasan Pegunungan Muria terdiri dari dataran tinggi, dataran rendah, dan pesisir yang melingkupi tiga kabupaten, Jepara, Kudus, dan Pati. Kawasan hutan pegunungan itu menjadi kawasan hutan lindung dan hutan produksi. Sebagian lagi berfungsi sebagai kebun, hutan rakyat, tanah ladang, persawahan, dan permukiman.

Menyadari peran penting Pegunungan Muria bagi kehidupan kita, lembaga swadaya masyarakat di bidang lingkungan, Muria Research Center Indonesia pada 19-21 Oktober lalu mengadakan kemah konservasi di Bumi Perkemahan Kajar. Kemah diikuti oleh 16 siswa SMA dan 9 mahasiswa.

Kemah yang satu ini sungguh berbeda dengan kemah yang pernah saya ikuti. Di sini kami diajak belajar mengenal lingkungan tempat kami berkemah dan belajar mengenalnya untuk kelak menjaganya agar tetap lestari.

Menurut Achmad Makhali dari Yayasan Lingkar Studi Aksi dan Refleksi Indonesia yang berbicara di kemah tersebut, pemerintahan Hindia Belanda (1873 Staatsblad No 215) tahu benar fungsi penting kawasan itu. Tak heran bila sejak zaman Belanda wilayah itu ditetapkan sebagai kawasan tangkapan air. Keputusan itu dikuatkan oleh Pemerintah Indonesia.

Makhali menunjukkan data hutan di Pegunungan Muria. Berdasarkan data Perum Perhutani wilayah kelola Unit I, hutan pada wilayah Kesatuan Pemangkuan Hutan Pati seluas 10. 107, hektar memiliki tiga fungsi.

Sebagai hutan produksi tetap (149,90 ha), hutan produksi terbatas (3.529,00 ha), dan hutan lindung (6.428,50 ha) yang terletak di wilayah Kabupaten Pati, Kudus, dan Jepara. Kawasan hutan itu dikelola oleh Badan Kesatuan Pemangkuan Hutan Gajah Biru, Muria Pati Ayam, dan Ngarengan. Selain itu terdapat kawasan hutan cagar alam seluas 1.402,80 ha di Kabupaten Pati dan Jepara.

Sebagian gundul

Data Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Pemali Jawa Tengah tahun 2007 menunjukkan, kawasan Muria mengalami degradasi dari tahun ke tahun. Total luas hutan kawasan Muria adalah 69.812,08 hektar, terdiri dari hutan di Jepara 21.516,406 hektar, namun 17.954 hektar atau 83 persen di antaranya gundul, termasuk 3,962.66 hektar hutan lindung.

Di Kabupaten Pati 47.338 hektar, namun 38.344 hektar atau 81 persen rusak, termasuk 1,425 hektar hutan lindung. Sementara di Kabupaten Kudus, 83 persen atau 1.940 hektar hutan rusak, termasuk 53.93 hektar hutan lindung.

Di kemah konservasi, peserta diajak menganalisis lingkungan sekitar tentang pentingnya fungsi hutan di Muria. Kami juga mendapat materi seperti membuat herbarium, teknik merekam data karnivora, dan mengamati burung di alam bebas. Aktivitas yang menarik dari semuanya itu dipraktikan di lapangan.

Herbarium merupakan materi yang sangat menarik karena saat naik gunung kita bisa melakukannya. Banyak pohon yang belum kita kenal dan sangat sedikit pula ahli di bidang tersebut. Saat mendaki gunung, herbarium sangat berguna untuk mengetahui jenis tumbuhan.

Menurut Koordinator Kemah Konservasi, Finaldi BagusWidianto, para pemuda perlu dibawa untuk menghayati lingkungan dengan memperkenalkan pada masalah lingkungan hidup, melibatkan, dan memberikan kepercayaan untuk mencari solusi pemecahan dari masalah yang ada.

Acara itu sangat menyenangkan. Ada banyak hal baru saya temukan dalam kemah tersebut, dengan cara itu kami lebih mengenal Pegunungan Muria dengan cara yang berbeda.

(IMAM KHANAFI, Jurusan Teknik Sistem Informasi Universitas Muria Kudus, Jawa Tengah)


Editor :