Senin, 22 September 2014

News / Sains

Dampak Introduksi Bakteri Sulit Dikontrol

Selasa, 6 November 2012 | 13:54 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Rencana introduksi bakteri asing asal China untuk mengatasi pencemaran Sungai Ciliwung dinilai terlalu berisiko. Penyebaran bakteri akan sulit dikendalikan, yang bisa berdampak buruk bagi manusia dan ekosistem lokalnya.

”Jangankan mikroba dari luar, mikroba dari dalam negeri juga harus sangat hati-hati. Apalagi kalau dilepas ke alam, bukan pada instalasi terkontrol,” kata Sarjiya Antonius, Ketua Kelompok Penelitian Ekologi dan Fisiologi Mikroba Bidang Mikrobiologi Puslit Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Senin (5/11/2012), di Jakarta.

Ini menyikapi rencana kerja sama Pemprov DKI dengan perusahaan China menggunakan bakteri dari China di Sungai Ciliwung. Uji coba akan dilakukan di anak Sungai Ciliwung sepanjang 1 kilometer di depan Istana Negara. Uji cobanya tiga bulan.

Penggunaan langsung bakteri di lingkungan alam berisiko karena sungai digunakan warga untuk mencuci dan mandi. Oleh karena tak terkontrol, bakteri menyebar ke berbagai tempat secara tak kasatmata, yang akan sulit ditangani dampaknya.

Bila bakteri pengurai limbah dari luar, Sarjiya menyarankan didahului uji coba skala kecil/lingkungan secara terkontrol. ”Itu dilakukan di negara-negara lain,” katanya.

Hal sama diungkapkan Kepala Laboratorium Afiliasi dan Jasa Departemen Kimia Fakultas MIPA Universitas Indonesia Sunardi. Bakteri perlu diuji lagi untuk memastikan tak beracun dan tak berbahaya.

”Tak bisa langsung dimasukkan ke sungai. Dikarantina, diuji di kolam untuk isolasi,” ujarnya. Di beberapa pengalaman bioremediasi, jenis bakteri pengurai sampah spesifik; bukan patogen.

”Tak boleh ada racun di sungai agar bakteri tidak mati. Jumlah makanan, dalam hal ini sampah, yang terlalu banyak pun tidak boleh karena menyebabkan bakteri mati juga,” ujarnya.

Ciliwung adalah sungai mengalir. Jangan sampai bakteri yang disuntikkan justru terbawa arus.

Spesies invasif

Kekhawatiran lain, bakteri itu bisa bersifat invasif saat dilepas di Indonesia. Sifat invasif merugikan ekosistem karena mendesak kehidupan bakteri lokal.

Asisten Deputi Keanekaragaman Hayati dan Kerusakan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup Antung Dedi Rahadiansyah mengatakan, introduksi jasad renik, termasuk bakteri, butuh analisis mengenai dampak lingkungan. Ini sebelum introduksi. Jenis bakterinya pun harus jelas. Bila invasif, maka tak boleh masuk ke Indonesia.

Jika termasuk produk rekayasa genetika, wajib mengikuti aturan keamanan hayati Indonesia. ”Wajib mendapat sertifikat aman lingkungan,” tuturnya.

Usulan lain

Sebelum gagasan penggunaan bakteri dari China, perusahaan Korea Selatan disetujui membangun instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di Jakarta pada masa Gubernur Fauzi Bowo.

Peletakan batu pertama IPAL percontohan di kawasan Masjid Istiqlal itu pada 3 Desember 2012. Hal tersebut diungkapkan Kepala Bidang Prasarana dan Jasa Kedeputian Pengendalian Pencemaran Lingkungan Kementerian LH Yun Insiani.

IPAL itu di kolam pengendap 200 meter kubik di pelataran Istiqlal. Kapasitas instalasi pengolahnya 500 meter kubik per hari. Panjang segmen Sungai Ciliwung yang akan dikeruk dan dibersihkan 430 meter, dari Pintu Air Pasar Baru hingga samping kantor Pertamina Pusat.

(ICH/FRO/YUN)

 


Editor : yunan
Sumber: