Kamis, 17 April 2014

News /

Tak Sekadar Hasil Kebun untuk Konsumsi

Senin, 5 November 2012 | 06:15 WIB

Baca juga

OLEH FRANS SARONG

Di kalangan masyarakat Timor, terutama di pedesaan, jagung tidak sekadar hasil kebun untuk kebutuhan konsumsi di rumah. Jagung disebut pula sebagai ”usi nahat” atau bahan makanan level ”darah biru”—bersama padi dan turis—karena diyakini memiliki roh penunggunya. Itu sebabnya proses budidaya hingga pemanfaatannya selalu dengan perlakukan khusus.

Tanaman jagung (Zea mays L) yang berbuah matang tidak bisa langsung dipanen dan dikonsumsi begitu saja. Harus didahului ritual khusus dengan sebutan berbeda-beda di sejumlah kawasan di Timor.

Masyarakat pedesaan di Kabupaten Belu menyebutnya hamis batar. Adapun masyarakat di kawasan Amfoang (Kabupaten Kupang) hingga Molo (Kabupaten Timor Tengah Selatan/TTS) menyebut hainiki pensufa. Di kawasan lain TTS, seperti Niki-niki, Boti, dan Amanuban, menyebut ritual itu dengan poepah. Meski nama berbeda, kemasan ritual bermakna sama, yakni syukuran sekaligus ”pendinginan” hasil panen, terutama jagung, sebelum bahan makanan itu dikonsumsi.

Perihal budaya berbudidaya jagung tersebut menjadi bagian kegiatan pameran di Museum NTT di Kota Kupang, 10-15 September 2012. Pameran itu merupakan rangkaian kegiatan Pekan Nasional Cinta Sejarah (Pentas) di Kota Kupang. Pentas dilaksanakan oleh Museum NTT dan UPT Arkeologi, Sejarah, dan Nilai Tradisional Disbudpar NTT bekerja sama dengan Balai Pelestarian Nilai Budaya Ditjenbud Kemdikbud Wilayah Bali-Nusa Tenggara.

”Budaya berkebun jagung menjadi bagian dari pameran kami kali ini karena tanaman atau bahan makanan itu sejak leluhur tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat NTT. Hampir seluruh prosesnya, mulai dari pembukaan kebun, penanaman benih, hingga panen selalu dengan ritual tersendiri karena jagung merupakan roh kehidupan,” jelas Kepala Museum NTT Leonard Nahak.

Khusus pameran budaya jagung, menampilkan Jusuf Boimau (70), asal Niki-niki, sekitar 130 kilometer sebelah timur Kota Kupang. Jusuf Boimau, pensiunan PNS guru sekolah dasar, adalah tetua yang dianggap mengetahui dan memiliki pemahaman secara baik terkait budaya berkebun jagung di Timor. ”Kalau di Niki-niki, Boti, Amanuban, dan sekitarnya, ritual syukuran panen jagung itu disebut poepah. Terutama di Boti dan beberapa kampung tua lainnya di TTS, ritual masih tetap dipertahankan hingga sekarang,” tutur Jusuf Boimau yang juga sebagai ”kurator” amatir.

Salib dan ”tola”

Seperti dipamerkan, setidaknya ada dua berkas batang jagung yang berbuah matang dan dinilai terbaik menjadi sesajen bagi Wujud Tertinggi dan para leluhur. Seberkas di antaranya diikatkan pada bagian tengah pohon usapi atau kesambi (Schleichera oleosa) di halaman museum. Seberkas lainnya diikatkan pada tiang kurban bercabang tiga yang disebut tola oleh masyarakat Niki-niki dan sekitarnya. Tiang kurban itu ditancapkan di atas mazbah dari susunan batu.

Menariknya, di samping tola juga ditancapkan salib, simbol kehadiran keyakinan Kristen (Katolik atau Protestan). ”Kehadiran tola dan salib sebenarnya hendak menggambarkan bahwa masyarakat kita, terutama di pedesaan, hingga sekarang menganut kepecayaan ganda. Rata rata sudah Kristen, tetapi tetap mempertahankan kepercayaan tua dengan berbagai ritual adatnya, termasuk ritual syukuran panen jagung,” jelas Leonard Nahak.

Sebagaimana digambarkan tetua Jusuf Boimau, ritual poepah di Niki-niki, Boti, Amanuban, atau sejumlah kampung tua lainnya di TTS, ditandai dengan arak-arakan potongan batang jagung berbuah matang ke rumah adat. Uniknya, arak-arakan itu hanya melibatkan kaum lelaki. ”Kaum perempuan hanya sebatas membereskan persiapan sejak pengambilan jagung dari kebun hingga rumah. Selanjutnya arak-arakan jagung ke rumah adat hanya dilakukan kaum lelaki. Ini kebiasaan sejak leluhur,” tuturnya Jusuf Boimau.

Agak berbeda, ritual bermakna sama bernama hamis batar di perkampungan Kabupaten Belu melibatkan kaum lelaki dan perempuan hingga arak-arakan buah jagung untuk dipersembahkan melalui pohon usapi dan tiang kurban tola di depan rumah adat.

Buah jagung dalam arak-arakan adalah panenan dari kebun masing- masing keluarga. Setelah berkumpul di pelataran kampung, hasil panen itu selanjutnya secara bersama diarak menuju rumah adat dalam suasana penuh kegembiraan.

”Kalau di Belu, tidak ada pembatasan peserta ketika arak-arakan hasil panen,” tambah tetua lainnya, Soleman Bessie (58), asal Tuapakas, Desa Oni, Kecamatan Kualin, TTS.

Masyarakat NTT, termasuk Timor, sejak lama mengandalkan jagung sebagai bahan pangan utama meski belakangan gengsinya mulai tergusur oleh beras. Itu dimungkinkan oleh topografi NTT yang kering sehingga lebih potensial menjadi lahan kebun jagung.

Tanaman dalam kelompok keluarga Gramineae itu memang tumbuh meluas di NTT meski pola usaha masih dilakukan secara tradisional dan rata-rata belum berorientasi pasar. Lahan kebun umumnya ditanami dengan tumpang sari secara serempak, mulai jagung, padi, kacang-kacangan, hingga umbi-umbian.

Belum diketahui secara pasti kapan jagung mulai dibudidayakan di Indonesia hingga menjadi tanaman pangan utama di NTT. Berdasarkan berbagai sumber, tanaman semusim dengan siklus hidup sekitar 100 hari itu dari Amerika Tengah. Kawasan seperti Meksiko bagian tengah sudah membudidayakannya sejak 10.000 tahun lalu.

Di Indonesia, Jawa Timur adalah provinsi penghasil jagung tertinggi dengan produksi sekitar 5 juta ton. Menyusul Jawa Tengah (3,3 juta ton), Lampung (2 juta ton), Sulawesi Selatan (1,3 juta ton), Sumatera Utara (1,2 juta ton), Jawa Barat (700.000 ton), dan NTT 653.620 ton pada 2011.

Berbeda dengan daerah lainnya, bagi sebagian besar masyarakat NTT, terutama di pedesaan, jagung —juga padi—adalah tanaman ”bernyawa” yang berkekuatan gaib. Karena itu, pembudidayaannya selalu dengan perlakuan khusus.

Seperti dikisahkan Soleman Bessie, masyarakat di pedesaan di Tuapakas, terutama para tetua, hingga sekarang selalu berusaha sedapat mungkin tidak ada bagian hasil panen jagung atau padi berupa bijian sekalipun yang terbuang atau tercecer begitu saja. Mereka beranggapan, hasil panen yang tercecer akan memicu kemarahan roh penunggunya hingga berdampak terhadap penyusutan hasil panen musim berikutnya.

Kisah di Tuapakas itu sebenarnya juga terjadi di pedesaan NTT lainnya meski ritual terkait budidayanya sudah surut jauh. Jusuf Boimau, Soleman Bessie, dan Leonard Nahak berpandangan, ritual dalam budidaya jagung termasuk kearifan lokal yang seharusnya dipulihkan kembali dan dilestarikan. Alasannya, mayoritas warga NTT adalah masyarakat berbudaya jagung.


Editor :