Jumat, 18 April 2014

News / Sains

Mengenal Keluarga Kelomang Lebih Dekat

Selasa, 18 September 2012 | 23:28 WIB

Baca juga

JAKARTA, KOMPAS.com - Kelomang? Mungkin ada kata lain yang biasa Anda gunakan untuk menyebut hewan yang satu ini.

Kelomang juga biasa dikenal dengan umang-umang atau pong-pongan yang dalam bahasa Inggris disebut dengan hermit crab.

Di Indonesia, kelomang sendiri dapat dengan mudah kita temui bahkan mungkin ada beberapa di antara kita yang pernah mengkonsumsinya.

Seorang ilmuwan oseanologi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr. Ir. Dwi Listyo Rahayu berhasil melakukan klasifikasi berbagai jenis kelomang yang ada di laut Indonesia.

Ia berkesempatan memaparkan hasil penelitiannya itu dalam orasi pengukuhan profesor riset LIPI yang dilaksanakan pada tanggal 18 September 2012 di Auditorium LIPI, Jakarta.

Dalam sistematika hewan, Infraordo anomura atau hewan yang memiliki bentuk tubuh bagian belakang yang tidak simetris itu, terdiri atas tujuh supersuku, 17 suku, 264 marga, dan 2.470 jenis, dan 54 persen dari jumlah tersebut dikuasai oleh kelomang.

Berdasarkan hasil penelitian yang dipaparkan dalam orasinya, kelomang memiliki sepuluh kaki. Sepasang kaki depannya selalu berbentuk capit yang berfungsi untuk memegang atau menyerang mangsanya, kaki kedua dan ketiganya berfungsi sebagai organ untuk bergerak, kaki keempat dan atau hanya kaki kelima mengecil dan ujungnya juga berbentuk capit kecil.

Kedua pasang kaki terakhir ini memiliki bulu yang lebat dan berfungsi untuk membersihkan tubuhnya, terutama insang dan telur pada betina.

Saat bermetamorfosis, larva kelomang berubah menjadi bentik dan mencari cangkang keong yang kosong untuk digunakan sebagai tempat tinggalnya.

Kelomang hidup di perairan tropis, subtropis, maupun dingin di darat sampai di laut dalam.

Kelomang merupakan hewan yang unik karena memiliki beberapa tingkah laku yang berbeda-beda saat mereka saling bertemu satu sama lain.

Ada tiga macam tingkah laku sosial kelomang jika bertemu, yakni mereka akan saling mengabaikan, kawin, atau berkelahi.

Biasanya kelomang akan berkelahi untuk memperebutkan cangkang yang lebih baik. Jika ada cangkang milik kelomang lain yang lebih bagus, kelomang akan berusaha untuk merebut dan memilikinya.

"Jumlah kelomang yang sudah ditemukan saat ini tergolong sedikit karena kurangnya eksplorasi di berbagai habitat dan ekosistem," kata Dwi Listyo Rahayu dalam orasinya.

Menurut Rahayu, saat ini dunia menghadapi penurunan keanekaragaman jenis biota laut akibat terjadinya perubahan lingkungan, baik yang karena aktivitas manusia maupun perubahan kondisi alam.


Penulis: Anmaria Redi Pinta Dasyanti
Editor : Tri Wahono