Minggu, 31 Agustus 2014

News / Sains

Tikus Tanpa Bulu Simpan Rahasia Umur Panjang

Jumat, 7 September 2012 | 17:32 WIB
 

KOMPAS.com - Spesies tikus yang berhabitat di daratan Afrika diklaim menyimpan rahasia umur panjang. Spesies yang disebut tikus mondok telanjang (Heterocephalus glaber) itu bisa hidup hingga 30 tahun, 10 kali lebih lama daripada tikus lainnya.

Sekilas, tikus ini terlihat jelek dan bongkok. Tikus disebut telanjang karena tubuhnya tidak ditumbuhi rambut, hanya punya flek-flek kecoklatan seperti tahi lalat. Namun demikian, tikus ini istimewa sebab tubuhnya tak mengalami degenerasi, awet muda, bisa bereproduksi sampai mati.

 

Heterocephalus glaber juga istimewa sebab resisten terhadap kanker, bisa hidup di lingkungan ekstrem serta makan makanan beracun tanpa resiko. Sisi negatifnya hanya pengelihatan yang buruk sebab tikus ini hidup di bawah tanah.

Ilmuwan mempelajari spesies tikus ini dan berharap dapat menguak rahasia umur panjangnya. Karena tikus ini berbagi 93 persen gen dengan manusia, maka ilmuwan yakin penelitian tikus ini akan membuahkan manfaat.

Beberapa penelitian telah dilakukan. Tahun lalu, para peneliti dari University of Liverpool di Inggris memetakan struktur gen tikus ini untuk pertama kalinya.

Dr Joao Magalhaes, pimpinan riset menuturkan, "Tingkat resestensi hewan ini terhadap penyakit kanker bisa memberi kita petunjuk mengapa beberapa makhluk lebih rentan terhadap penyakit dibandingkan dengan yang lainnya. Kami ingin menjadikan tikus ini sebagai model pertama ketahanan terhadap penyakit kronis dan penuaan."

Ilmuwan optimis, umur bukan hanya soal takdir. Professor Jonathan Flint dari Oxford University seperti dikutip Daily Mail, Rabu (5/9/2012), mengatakan, "Penuaan bukanlah takdir. Tidak ada batasan berapa lama kita bisa hidup. Fakta bahwa manusia mati pada umur 80 atau 90 bukanlah sesuatu yang pasti."

"Kita bisa secara teoretis memperpanjang usia hingga 200 tahun jika kita memahami mekanisme biologisnya dan mengubahnya dengan cara tertentu," sambung Flint optimis.

 


Penulis: Anmaria Redi Pinta Dasyanti
Editor : yunan
Sumber: