Sabtu, 20 Desember 2014

News / Sains

Setelah 35 Tahun, Voyager Masuki Ruang Antar Bintang

Kamis, 6 September 2012 | 13:51 WIB

PASADENA, KOMPAS.com - Tiga puluh lima tahun setelah meninggalkan bumi, wahana ruang angkasa tanpa awak Voyager 1, kini menuju wilayah maha luas tempat bintang-bintang berada.

Cepat atau lambat, wahana milik NASA ini akan meninggalkan tata surya dan memasuki wilayah yang sama sekali baru. Voyager 1 akan menjadi wahana buatan manusia pertama yang menyeberang ke sisi lain wilayah Matahari.

Dan rasanya tak seorang pun di Bumi yang merayakan pengembaraan Voyager 1 lebih antusias daripada Ed Stone (76), yang mengikuti proyek itu dari awal. "Kami sungguh ingin menjelajahi wilayah di luar tata surya dan menemukan apa yang ada di sana," katanya.

Ketika Voyager 1 dan Voyager 2 diluncurkan pada tahun 1977, tidak ada yang tahu berapa lama mereka akan bertahan menjelajahi angkasa. Kini, keduanya menjadi wahana ruang angkasa dengan waktu operasi terpanjang dalam sejarah dan berada paling jauh, yakni miliaran kilometer dari Bumi, tetapi dalam arah yang berbeda.

Rabu (5/9/2012) merupakan ulang tahun ke-35 peluncuran Voyager 1 yang semula diarahkan ke Jupiter dan Saturnus. Sekarang wahana tersebut melayang di pinggiran tata surya dalam bungkus gelembung plasma raksasa. Daerah ini panas dan bergolak akibat aliran partikel bermuatan dari Matahari.

Di luar gelembung itu adalah perbatasan baru yakni ruang antar bintang. Begitu wahana terjun ke ruang itu, para ilmuwan menduga ia akan melayang di wilayah yang lebih sunyi dan tenang.

Kapan Voyager 1 akan masuk ruang sunyi itu? Tak seorangpun tahu. Wilayah itu adalah langit yang belum dipetakan. Satu hal yang jelas: Perbatasan yang memisahkan tata surya dan ruang antarbintang itu dekat, tetapi untuk menyeberanginya bisa makan waktu dalam hitungan hari, bulan atau tahun.

Voyager 1 saat ini berada pada jarak lebih dari 17 miliar kilometer dari Matahari. Sedangkan kembarannya Voyager 2, yang ulang tahun peluncurannya dirayakan dua minggu lalu, berada sekitar 14 miliar kilometer dari Matahari. Uniknya, "jantung" mereka masih berdetak walaupun sudah menjadi peninggalan awal "Era Ruang Angkasa".

Masing-masing wahana hanya memiliki 68 kilobyte memori komputer. Sebagai perbandingan, iPod terkecil - 8-gigabyte iPod Nano - dilengkapi memori 100.000 kali lebih besar.

Melampaui penugasan

Tujuan asli Voyager adalah untuk menjelajahi langit sekitar Jupiter dan Saturnus, dan mengirimkan foto-foto titik merah besar di Jupiter dan cincin Saturnus yang berkilauan.

Mereka juga mengirimkan berbagai penemuan seperti letusan gunung api di bulan Jupiter yang bernama Io, lautan tersembunyi di bawah permukaan es Europa, bulan Jupiter yang lain, serta tanda-tanda hujan metana di bulan Saturnus, Titan.

Voyager 2 kemudian memasuki wilayah Uranus dan Neptunus. Ia menjadi wahana ruang angkasa yang pernah terbang di sekitar kedua planet terluar itu. Sedangkan Voyager 1 menggunakan gravitasi Saturnus sebagai katapel untuk melontarkan diri ke tepi tata surya.

"Dari waktu ke waktu, Voyager mengungkapkan berbagai hal di luar dugaan teori, artinya masih banyak hal yang harus kita pelajari," kata Stone, kepala ilmuwan Voyager dan profesor fisika di Institut Teknologi California.

Hari-hari ini, beberapa insinyur masih mendengarkan kabar dari Voyager melalui satelit kampus yang berada tidak jauh dari Laboratorium Propulsi Jet NASA, tempat Voyager dibangun.

Ruang kontrol Voyager, berupa bilik kotak beralaskan karpet, bisa salah dimengerti sebagai kantor asuransi jika tidak ada tanda biru di atasnya yang bertuliskan "Mission Controller" atau "Pengawas Misi" dan peringatan pada komputer yang berbunyi: "Peralatan penting misi Voyager. Jangan disentuh!"

Saat ini sudah tidak ada ilmuwan penuh waktu yang tersisa dalam misi, tetapi ada 20 analis paruh waktu yang mengamati data yang terkirim. Karena posisi wahana yang begitu jauh, perlu waktu 17 jam bagi sinyal radio Voyager 1 untuk mencapai Bumi. Sementara sinyal dari Voyager 2, perlu sekitar 13 jam.

Meski kamera keduanya sudah lama mati, namun wahana bertenaga nuklir seukuran mobil ini masih memiliki lima instrumen untuk mempelajari medan magnet, sinar kosmik, dan partikel bermuatan dari Matahari yang dikenal sebagai angin Matahari. Keduanya juga membawa cakram emas berisi ucapan salam, musik, dan gambar dalam berbagai bahasa dengan harapan ada makhluk cerdas yang menemukannya.

Sejak tahun 2004, Voyager 1 telah menjelajahi tepian tata surya di mana angin matahari secara dramatis melambat dan memanas. Selama beberapa bulan terakhir, para ilmuwan telah melihat perubahan-perubahan yang menjadi indikasi Voyager 1 telah siap berada di tepian ruang antar bintang.

Bila hal itu terjadi, Voyager akan menjadi wahana ruang angkasa pertama yang menjelajahi wilayah tersebut. Observatorium seperti teleskop ruang angkasa Hubble dan Spitzer sebenarnya telah lama mengintip ruang di seberang tata surya, tetapi cenderung fokus pada galaksi yang jauh.

Misi Voyager menelan biaya 983 juta dollar pada tahun 1977, yang setara dengan 3,7 milyar dollar AS sekarang. Pesawat ruang angkasa memiliki cukup bahan bakar untuk bertahan sampai sekitar tahun 2020. Pada saat itu, para ilmuwan berharap Voyager sudah melayang di antara bintang-bintang.


Editor : A. Wisnubrata
Sumber: