Selasa, 29 Juli 2014

News /

GEOTEKNOLOGI

Ketidakpastian Cuaca Ancam Lahan Kritis

Rabu, 1 Agustus 2012 | 02:31 WIB

Jakarta, Kompas - Ketidakpastian cuaca membuat kondisi lahan makin kritis akibat perubahan peruntukan. Seperti di Ambon, intensitas curah hujan ekstrem beberapa waktu lalu menimbulkan tanah longsor pada lahan curam yang dialihfungsikan untuk permukiman.

Ancaman juga bisa terjadi atas rencana perubahan status hutan lindung menjadi hutan produksi di Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Demikian kata ahli geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Edi Prasetyo Utomo, ketika dihubungi di Ambon, Maluku, Selasa (31/7).

”Saya sedang meriset daerah Ambon yang longsor beberapa waktu lalu. Selain akibat daerah yang curam untuk permukiman, longsor juga karena faktor cuaca ekstrem berupa curah hujan yang tinggi,” kata Edi.

Sepanjang Mei-Juni 2012, curah hujan di Ambon mencapai 2.500 milimeter (mm). Menurut Edi, selama tahun 2011, curah hujan tercatat hanya 4.600 mm. ”Di Jawa, curah hujan rata-rata tidak sampai 3.000 mm per tahun,” katanya.

Edi menyinggung rencana perubahan status hutan lindung menjadi hutan produksi di Kabupaten Bogor. Pada hutan produksi, penebangan pohon tidak dapat dihindarkan. Pada kondisi hujan ekstrem, hal itu akan menimbulkan limpasan air yang bisa menyebabkan banjir dan longsor.

Kepala Pusat Meteorologi Publik pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Mulyono Prabowo mengatakan, periode Mei-Agustus, wilayah Maluku dan sekitarnya mengalami puncak musim hujan. Curah hujan yang ekstrem sering terdampak siklon tropis di sebelah utaranya, di Samudra Pasifik.

”Kondisi cuaca sekarang sangat memengaruhi kejadian bencana pada lingkungan yang makin rusak,” lanjut Mulyono.

Siklon tropis Saola masih berlangsung di perairan timur Filipina. Siklon ini menimbulkan peningkatan curah hujan dan kenaikan tinggi gelombang laut yang perlu diwaspadai. (NAW)


Editor :