Minggu, 21 Desember 2014

News / Sains

Telur Semut Merah Punya Potensi Ekonomi

Selasa, 14 Februari 2012 | 20:44 WIB

LEBAK, KOMPAS.com - Pemburu telur semut merah atau kroto untuk makanan burung berkicau dan umpan memancing ikan di Kabupaten Lebak, Banten, dapat meningkatkan pendapatan warga karena harga jualnya mencapai Rp 80.000/kilogram.

"Kami bisa menghidupi ekonomi keluarga dan mampu menyekolahkan anak dari pekerjaan sebagai pemburu telur semut merah atau ’rarangge," kata Eman (45) warga Kecamatan Malingping, Kabupaten  Lebak, Selasa (14/2/2012).

Eman mengaku selama beberapa pekan terakhir ini harga kroto di pasaran naik dari sebelumnya Rp 50.000/kg kini naik menjadi Rp 80.000/kg. Dalam sehari, Eman mengaku mendapatkan 2,5 kg kroto.

"Kami sehari pulang ke rumah bisa bawa uang Rp 160 ribu dari hasil menjual kroto, padahal sebelumnya hanya Rp 80 ribu per hari," katanya.

Menurut Eman, pemburuan telur semut dilakukan sejak pagi hingga sore dan hari itu juga langsung dijual ke pedagang pengumpul. Penundaan mengakibatkan telur kroto membusuk.

Gopur (45), warga Pasir Tanjung Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, mengatakan bahwa telur semut merah bisa didapatkan di pohon tinggi. Beberapa pohon diantaranya adalah lame, petai, nangka dan mahoni.

Pengambilan telur semut dilakukan dengan memanjat lebih dulu untuk mengecek. Setelah yakin ada telur semut alat penangkap berupa bambu sepanjang 15 meter dengan kain serupa jala digunakan untuk memanen. Hasil panen disalurkan ke pengumpul.

Dudung (60), warga desa Pagelaran, Kecamatan Malingping, yang juga pengumpul telur semut mengatakan bahwa telur yang ditampung lalu disalurkan ke Tangerang dan jakarta.

"Setiap sore kami menampung telur milik ratusan pemburu. Jumlah yang mereka jual tidak jarang mencapai satu sampai dua kuintal," ujar Dudung.

Meski demikian, pengambilan telur semut pun punya resiko. Bila tak hati-hati, pemburu bisa digigit hingga mengalami perih dan gatal. Jadi, meski mencari uang, prinsip kehati-hatian harus dilakukan.


Penulis: Yunanto Wiji Utomo
Editor : Benny N Joewono
Sumber: