Jumat, 22 Agustus 2014

News / Regional

Abrasi

Dampak Penggundulan Hutan Mangrove Kian Nyata

Senin, 9 Januari 2012 | 13:47 WIB

GORONTALO, KOMPAS.com — Dampak penggundulan hutan mangrove di Gorontalo kian nyata. Akibat utama dari penggundulan hutan mangrove adalah abrasi pantai di beberapa bagian pulau. Selain itu, penggundulan hutan mangrove mengganggu keseimbangan ekosistem ikan laut.

Sebuah organisasi nirlaba bidang lingkungan di Gorontalo, Sustainable Coastal Livelihoods and Management (Susclam) mencatat, luas hutan mangrove di Gorontalo pada 1988 sekitar 14.700 hektar. Luas itu menurun dan hanya tersisa 8.800 hektar pada tahun lalu. Penghitungan luas hutan mangrove tersebut berdasar citra satelit.

"Penyebab utama penggundulan hutan mangrove di Gorontalo adalah alih fungsi menjadi pertambakan. Itu sudah dimulai sejak periode awal 1990-an," ungkap Rahman Dako dari Susclam, Senin (9/1/2012), di Gorontalo.

Menurut Rahman, berkurangnya area hutan mangrove berdampak pada tergerusnya kawasan pantai akibat terjangan ombak. Selain itu, kerusakan hutan mangrove yang menjadi habitat bagi plankton dan ikan berbagai jenis bisa mengganggu keseimbangan ekosistem. Hutan mangrove yang utuh mendukung terciptanya kondisi perairan pantai yang baik untuk pertumbuhan karang, dan kualitas air yang baik untuk budidaya rumput laut.

Penebangan hutan mangrove juga terjadi di perairan Laut Sulawesi di Kabupaten Gorontalo Utara sehingga menyebabkan pantai empat pulau terabrasi dan rata-rata kehilangan pantai sepanjang 50 meter dari darat. Keempat pulau itu adalah Saronde, Bogisa, Otilade, dan Mohinggito. Kondisi terparah terjadi pada Pulau Bogisa dan Mohinggito. Jika air laut pasang, kedua pulau itu nyaris lenyap.

"Pemerintah memiliki wewenang mengeluarkan larangan yang mencegah penebangan hutan bakau atau pengambilan pasir pantai. Sayangnya, pemerintah masih mengabaikan hal-hal semacam itu dan seperti tidak peduli pada kelestarian lingkungan," tutur M Djufryhard dari Jaring Advokasi Pengelolaan Sumber Daya Alam (Japesda) Gorontalo.


Penulis: Aris Prasetyo
Editor : Nasru Alam Aziz