Jumat, 22 Agustus 2014

News / Travel

Ketika Rosso Membagi Ilmu Membatik...

Senin, 19 Desember 2011 | 15:46 WIB

BELAJAR membatik di Yogyakarta mungkin sudah tak asing. Namun di Batik Rosso, belajar membatik bukan sekadar instruksi menggunakan canting dan malam. Rosso, seorang seniman batik ternama yang juga dikenal di kancah internasional, dengan apik menggabungkan batik dan seni pertunjukkan.

Karya Rosso sendiri sudah melanglang buana di punjuru dunia. Di rumah sekaligus workshop batik miliknya yang terletak di Jalan Wonosari, Bantul, Yogyakarta, ia berbagi ilmu kepada siapa pun yang ingin mengenal batik secara mendalam.

Bahwa batik bukan sekadar hasil tetapi proses dari benang hingga menjadi sebuah busana. Penggunaan warna alam yang menjadi ciri khas Batik Rosso memberikan sebuah ketidakpastian. Tak ada jaminan, misalnya warna merah yang dihasilkan sama dengan warna merah sebelumnya. Namun, di situlah letak keunikannya. Seperti kehidupan yang memang serba tak pasti.

Rosso menampilkan sebuah pentas batik. Tarian dan tabuhan gamelan yang menyiratkan filosofi batik. Ia menyampaikannya dalam sebuah gerakan tarian yang menyajikan batik sebagai pasangan tarinya.

Pengunjung yang mampir ke workshop milik Rosso pun ibarat mendapat pengalaman lebih. Laksana paket menu lengkap, pengunjung akan belajar membatik, belajar menabuh gamelan, sampai belajar menari.

Pelajaran-pelajaran ini tentu belum semuanya. Tak boleh terlewatkan untuk berkeliling rumah batik Rosso tersebut. Makin masuk ke dalam, Anda akan melewati berbagai pohon buah. Setelah itu bersiaplah terpesona melihat kain-kain batik berwarna-warni terbentang di ketinggian.

Sesekali kain-kain batik yang basah yang sedang dikeringkan itu melambai-lambai tertiup angin. Tampak begitu cantik bagai gerakan gemulai penari berbusana cerah. Kemudian melangkah lebih ke dalam, Anda akan melihat proses pembatikan batik cap maupun batik tulis.

Anda pun dapat melihat tempat pembuatan warna dan proses pewarnaan. Batik Rosso menggunakan bahan pewarna alami. Semua pewarna terbuat dari bahan-bahan tumbuhan tanpa pewarna sintetis sedikit pun. Sehingga limbah yang dihasilkan pun aman bagi lingkungan.

Misalnya daun mangga diolah untuk mendapatkan warna hijau, sementara kunyit dan kulit nangka untuk mendapatkan warna kuning.  Karena menggunakan bahan alami, proses pencelupan pun lebih lama. Perlu proses mencelup berulang-ulang kali.

Selesai melihat-lihat proses pembuatan batik, Anda dapat naik ke atas menuju kamar-kamar yang disewakan. Sekilas seperti rumah panggung penuh ukiran yang memesona. Paduan eksotis dan penuh detail. Arahkan langkah ke kanan dan hamparan sawah menyambut Anda. Inilah spot favorit untuk berfoto.

Kamar-kamar ini memang disewakan untuk peminat batik maupun sekadar mencari ketenangan khas pedesaan Yogyakarta. Atau, tak puas belajar batik maupun kesenian Jawa dalam sehari, maka menginaplah dan Rosso dengan senang hati berbagi ilmu. Lalu berapa biaya menginap per malamnya?

“Hmm… saya tidak pernah menentukan harganya. Saya pernah menerima mahasiswa di sini, sering juga tamu asing. Kami siapkan sarapan dan makan ala kadarnya. Masalah biaya menginap, saya bingung juga kalau ditanya berapa harganya. Yang penting, saya pun senang mendapat teman mengobrol dan berdiskusi,” jawab Rosso.

Sebuah jawaban yang tak pasti seperti hidup. Karena memang intinya belajar batik adalah pelajaran sederhana mengenai kehidupan. Dan, sebuah ilmu akan hidup jika dibagikan.


Penulis: Ni Luh Made Pertiwi F
Editor : I Made Asdhiana