Kamis, 24 April 2014

News /

Lahan Menjadi Kendala Pelepasliaran Orangutan

Selasa, 22 November 2011 | 02:22 WIB

Baca juga

Seruyan, Kompas - Kementerian Kehutanan menargetkan seluruh orangutan di pusat-pusat rehabilitasi yang berjumlah lebih dari 1.000 ekor bakal dilepasliarkan pada tahun 2015. Namun, ketersediaan lahan yang aman dan nyaman menjadi kendala bagi primata terancam punah itu.

Saat ini, habitat orangutan terancam perluasan permukiman, perkebunan, perladangan, dan pertambangan. Namun, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan yakin pelepasliaran orangutan itu dapat direalisasikan.

”Sekarang ada moratorium (izin baru hutan). Jadi, tidak ada proyek-proyek,” kata Zulkifli, saat pelepasliaran enam ekor orangutan borneo (Pongo pygmaeus wurmbii) di Hanau, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah.

Keenam orangutan jantan itu bagian dari 40 ekor yang akan dilepasliarkan secara bertahap hingga Februari 2012. Kini, 324 orangutan (termasuk 36 ekor yang belum dilepasliarkan) berada di Orangutan Care Center & Quarantine yang dikelola Orangutan Foundation International (OFI). Ada pula yang berada di pusat rehabilitasi di Palangkaraya (BOS Nyaru Menteng), di Sumatera, dan di beberapa lokasi.

Lokasi pelepasliaran di 86.000 hektar hutan penyangga (bekas usaha loging/HPH) yang sejak 2008 diusulkan masuk Taman Nasional Tanjung Puting. Lokasinya 3 kilometer dari areal TN Tanjung Puting. Orangutan itu dimonitor selama dua pekan dan diharapkan menjelajah masuk ke TN Tanjung Puting.

Pelepasliaran itu bekerja sama dengan perusahaan kelompok Sinar Mas (PT SMART dan PT APP) yang akan memberi dukungan Rp 6,6 miliar untuk dua tahun. Di luar pendanaan, OFI akan memberi pelatihan kepada karyawan kedua perusahaan dalam hal konservasi orangutan di Kalteng, Kalbar, dan Kaltim. ”Pendanaan ini di luar tanggung jawab sosial (CSR) perusahaan,” ucap Gandi Sulistiyanto, Managing Director Sinar Mas.

Restorasi ekosistem

Zulkifli Hasan mengatakan, kesulitan mencari lokasi pelepasliaran bisa diatasi lewat program restorasi ekosistem yang ditawarkan kepada pengusaha. Ia juga meminta komitmen daerah dengan menjaga hutannya.

Kegiatan pelepasliaran diikuti Wakil Gubernur Kalteng Achmad Diran, Bupati Seruyan Darwan Ali, Pelaksana Tugas Bupati Kotawaringin Barat Masradin, dan Direktur Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Darori.

Presiden dan pendiri OFI Birute Galdikas menjelaskan, pelepasliaran enam pejantan orangutan karena sifat penjelajahnya. Itu diharapkan memberi data awal jelajah, sebaran individu, dan kompetisi di alam terbuka.

Pelepasliaran di Hanau-Seruyan berdasarkan riset OFI dan Institut Pertanian Bogor yang menyatakan areal bekas HPH itu layak sebagai zona penyangga TN Tanjung Puting. ”Hutan Hanau ini sebagian besar rawa gambut yang jadi habitat utama orangutan dan satu ekosistem besar Tanjung Puting,” ucapnya.

Tersangka pembunuh

Di Jakarta, Kepala Divisi Humas Polri Irjen Saud Usman Nasution mengatakan, dua tersangka kasus pembunuhan orangutan di perkebunan kelapa sawit di Desa Puan Cepak, Muara Kaman, Kutai, Kaltim, mengaku membunuh monyet dan orangutan 20 ekor sejak tahun 2008.

Keduanya karyawan bagian pembasmian hama PT ”K”. Pembunuhan itu dilakukan untuk memberantas hama sawit, yang diperintahkan pimpinan keduanya. Imbalannya, Rp 200.000 untuk monyet dan Rp 1 juta untuk orangutan. ”Modusnya, orangutan atau monyet ditembak dengan senapan angin. Jika belum mati, dikerahkan anjing,” kata Saud. Tersangka melanggar UU Konservasi Sumber Daya Alam, Hayati, dan Ekosistem. (ICH/FER/BAY)


Editor :