Jumat, 29 Agustus 2014

News / Sains

Orangutan Dilindungi, tetapi Tetap Dibunuh

Selasa, 1 November 2011 | 16:08 WIB

Terkait

KOMPAS.com — Studi 18 lembaga swadaya masyarakat yang dikoordinasi The Nature Conservacy mengungkapkan, pembunuhan orangutan masih terus berlangsung meski orangutan termasuk dalam kategori satwa yang terancam punah. Pembunuhnya pun sadar bahwa satwa tersebut sudah dilindungi negara.

Untuk mendapatkan hasil tersebut, peneliti yang terlibat melakukan wawancara pada 6.972 responden yang tersebar di 698 desa wilayah kalimantan Timur, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah. Studi  dilakukan selama 15 bulan mulai April 2008 hingga September 2009.

Fakta menarik dari penelitian tersebut adalah konflik antara manusia dan orangutan serta dampaknya. Konflik diartikan sebagai gangguan yang diterima manusia ketika orangutan masuk ke ladang, mengambil makan dan menjadi "hama".

Niel Mirkanuddin, TNC Project Manager Kalimantan, menguraikan, di antara semua responden yang diwawancarai, sebanyak 42 persen pernah berjumpa dengan orangutan. Waktu perjumpaan dengan orangutan lebih dari setahun lampau dan lokasinya di sekitar hutan.

Berdasarkan hasil penelitian, sebanyak 15 persen responden yang pernah menjumpai mengatakan bahwa konflik dengan orangutan pernah terjadi. Sebanyak 47 persen di antaranya melaporkan, konflik jarang terjadi, sementara 33 persen menyatakan konflik sering terjadi.

Wilayah yang paling sering terjadi konflik adalah Kalimantan Timur. Wilayah konflik umumnya berdekatan dengan perkebunan kelapa sawit, sawah, dan hutan tanaman industri. Dari terjadinya konflik, hanya 5 persen responden yang mengatakan berusaha membunuh orangutan.

Dari hasil survei, sebanyak 42 persen  responden yang bisa dipercaya mengatakan, pembunuhan orangutan terjadi di desanya. Istilah pembunuhan merujuk pada kematian orangutan akibat aktivitas manusia. Peristiwa pembunuhan terjadi dalam kurun waktu lima tahun lalu.

Provinsi Kalimantan Tengah merupakan wilayah dengan pembunuhan orangutan tertinggi. Secara keseluruhan, sebanyak 4,9 persen responden mengaku pernah membunuh orangutan. Dari 687 desa yang disurvei, sebanyak 145 di antaranya paling tidak memiliki satu warga yang pernah membunuh.

"Lokasi kematian umumnya terjadi di dataran rendah, tempat kepentingan manusia dan orangutan bertemu. Kecenderungan kematian terkait dengan jarak dari kebun kelapa sawit," kata Niel dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (2/11/2011).

Berdasarkan laporan pembunuhan oleh responden, sebanyak 691 orangutan telah dibunuh. Pembunuhan orangutan sendiri dilatarbelakangi oleh konsumsi (54 persen) dan sisanya untuk kepentingan pengobatan tradisional, pengambilan anak untuk piaraan, dan perdagangan.

Yang memprihatinkan, sebagian besar yakni 67 persen responden pelaku pembunuhan mengetahui bahwa orangutan merupakan satwa yang dilindungi undang-undang negara. Sementara 23 persen responden mengetahui bahwa orangutan dilindungi hukum adat.

Motivasi pembunuhan terutama untuk konsumsi, kadang disebabkan tidak memiliki pilihan lain dalam berburu. Orangutan dikatakan bukan target utama.

Niel mengatakan, "Penegakan hukum yang serius diperlukan sehingga bisa membuat efek jera. Kita lihat, sudah ada korban tetapi pelakunya belum tersentuh."

Sementara itu, Dr Noviar Andayani dari Wildlife Conservation Society mengatakan, data hasil penelitian memang masih perlu dicermati. Namun, lebih dari soal angka hasil penelitian, ia mengatakan, "Sekarang saatnya mencari solusi sehingga orangutan bisa dilestarikan."


Penulis: Yunanto Wiji Utomo
Editor : Tri Wahono