Jumat, 29 Agustus 2014

News / Sains

Rongsokan Satelit Jerman Hantam Bumi Hari Ini

Minggu, 23 Oktober 2011 | 11:04 WIB

KOMPAS.com — Rongsokan satelit ROSAT milik Jerman diperkirakan akan menghantam Bumi, Minggu (23/10/2011) antara pukul 07.30 dan 12.30 WIB. Demikian pernyataan German Aerospace Center, Minggu.

Hingga berita ini ditayangkan, belum ada berita satelit telah jatuh. Berdasarkan keterangan lembaga antariksa Jerman tersebut, beberapa bagian satelit yang berukuran mobil minivan itu akan terbakar di atmosfer. Namun, bagian lain yang jumlahnya mencapai 30 fragmen dan seberat 1,87 ton akan jatuh ke Bumi dengan kecepatan 450 km per jam.

Diperkirakan, puing terbesar yang akan jatuh adalah cermin tahan panas yang dimiliki ROSAT. Satelit mengorbit Bumi dalam 90 menit dan berpotensi untuk menghantam wilayah mana saja antara 53 derajat Lintang Utara dan 53 derajat Lintang Selatan. Ini meliputi sebagian besar wilayah Bumi, mencakup Amerika, Asia, Amerika Selatan, Afrika, dan Eropa.

"Berdasarkan data yang kami miliki saat ini, kami memperkirakan rongsokan satelit tidak akan jatuh di Eropa, Afrika, ataupun Australia. Satelit masih mengorbit sekarang, dan kami sedang melihat data untuk belahan Bumi yang lain," kata Andreas Schuetz, juru bicara German Aerospace Center, seperti dikutip AP hari ini.

Sampai sejauh ini, masih sulit untuk menentukan lokasi tepatnya satelit ROSAT akan jatuh karena adanya fluktuasi aktivitas Matahari dan tak adanya komunikasi dengan satelit yang sudah "mati" tersebut. Lembaga antariksa Jerman memprediksi, peluang rongsokan satelit jatuh di permukiman penduduk adalah 1:2.000, sedikit lebih besar dibandingkan dengan prediksi NASA. Karena jumlah penduduk Bumi 7 miliar, potensi satu individu terluka adalah 1:14 triliun.

Satelit ROSAT diluncurkan pada 1990 dan dinonaktifkan pada 1999. Satelit ini bertugas meneliti lubang hitam dan bintang neutron. Selama misi, satelit ini mengorbit Bumi pada ketinggian 600 km. Namun, ketika telah dinonaktifkan, ketinggiannya semakin rendah. Bulan Juni, contohnya, ketinggiannya hanya 330 km.


Penulis: Yunanto Wiji Utomo
Editor : Tri Wahono
Sumber: