Selasa, 21 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Selasa, 21 Mei 2013 | 07:43 WIB
KULTUR
Tajikistan Tentang Shakespeare
Penulis : Josephus Primus | Senin, 6 Juni 2011 | 20:10 WIB
|
Share:
maps.google.com Tajikistan

KOMPAS.com — Presiden Tajikistan Emomali Rahmon buka kartu. Ia mengaku mengganti nama belakangnya "Rahmon" dari nama lama "Rahmonov". "Nama sekarang untuk membuang ikatan Uni Soviet," katanya.

Tajikistan tadinya memang menjadi salah satu negara bagian Uni Soviet. Negeri ini kini berpenduduk tujuh juta orang. Saat masih menjadi bagian Uni Soviet, Tajikistan adalah negara bagian termiskin.

Penduduk Tajikistan berbahasa Persia. Pasalnya, sebagaimana warta AP dan AFP pada Senin (6/6/2011), negara ini memang terletak di Asia Tengah. Sampai sekarang, perekonomian Tajikistan masih amat tergantung dari Rusia.

Entah dari mana asalnya, warga Tajikistan sekarang gemar menggunakan nama-nama seram untuk anak-anak mereka. Bahkan, bertentangan dengan sastrawan William Shakespeare yang terkesan menyepelekan arti sebuah nama, warga Tajikistan justru beranggapan kalau nama memainkan peranan penting dalam menentukan takdir seseorang.

Maka dari itu, Rahmon pun menyarankan agar para orangtua membaca kisah epik kuno Persia, Shahnameh atau Buku Para Raja karangan Ferdowsi. Dalam kisah itu, lanjut Rahmon, banyak nama yang bisa digunakan para orangtua Tajikistan. "Banyak nama indah dan bagus dalam buku Shahnameh atau karya-karya klasik Tajikistan," kata Rahmon.

Kenyataannya, warga Tajikistan justru memilih nama-nama seperti "Gurgakov" yang berarti "Serigala". "Ada yang memberi nama 'Janjoliyev' yang berarti 'Konflik'," imbuh Rahmon, ayah sembilan anak itu.

Rahmon memang sampai sekarang mengaku terkejut tatkala mendengar nama-nama seram. "Bagaimana mungkin seseorang memberikan nama seekor serigala untuk anak-anak mereka?" tambah Emomali Rahmon, terkesan tak habis pikir. 
Editor :
Josephus Primus