Kamis, 27 November 2014

News / Travel

Wisatawan Tidung Jadi Pemulung Sampah

Minggu, 15 Mei 2011 | 07:51 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Rombongan berbaju kuning dengan kantung plastik hitam di tangan. Mereka memenuhi Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, Sabtu (14/5/2011), sambil menunduk dan memungut sampah. Jangan salah sangka, mereka bukan cuma sekadar gerombolan pemulung. Mereka adalah peserta "Gerakan Mulung Tidung" yang diadakan oleh Komunitas Traveling "Couchsurfing" dan www.kakigatel.com. Tak hanya berwisata dan menikmati keindahan Pulau Tidung, mereka melakukan gerakan bersih-bersih pantai. Peserta mencapai lebih dari 200 orang.

Menariknya, segenap elemen masyarakat di Pulau Tidung juga ikut serta dengan para wisatawan pemulung ini. "Yang ikutan dari petugas kebersihan di sini, ibu-ibu PKK, pelajar SMP dan SMA, sampai warga setempat juga ikutan. Mereka memang sudah kita kasih tahu ke Pak Lurah dari dua minggu lalu," kata Zee dari www.kakigatel.com.

Pulau Tidung sejak tahun 2009, mengalami lonjakan kunjungan wisatawan. Salah satu masalah yang dihadapi adalah sampah. Zee mengatakan dua bulan yang lalu saat pihaknya mampir ke Pulau Tidung, sampah benar-benar banyak. "Karena pengaruh angin, banyak sampah dari Jakarta. Kami lihatnya di Tidung Kecil," katanya.

Saat peserta "Gerakan Mulung Tidung" memulung, sampah-sampah tidak sebanyak seperti Zee lihat sebelumnya. Budhi, salah satu peserta "Gerakan Mulung Tidung", menceritakan pengalamannya saat memulung. "Saya nemu sepatu sampai dua pasang, tas sampai dua. Ada juga popok bayi," katanya.

Sementara itu Bittle Singh, peserta asal India menyarankan acara serupa seharusnya diadakan secara berkelanjutan. "Waktu kami bersihkan, saat kembali lagi, sudah kotor lagi. Untuk bersihkan pulau memang tidak bisa hanya sehari, harus berkali-kali. Juga bagaimana cara mengedukasi masyarakat setempat pentingnya kebersihan," kata Bittle Singh dari India.

Bupati Kepulauan Seribu Achmad Ludfi mengatakan pihaknya mengalami kesulitan menangani sampah karena dinas kebersihan sempat dihapus pada tahun 2010. Di tahun 2011, pemerintah provinsi kembali menghidupkannya dalam bentuk UPT. "Namun belum efektif berjalan. Kalau masyarakat sudah ada kepedulian namun belum serentak. Sampah kita bawa ke incinerator (tungku pembakaran sampah). Bukan hanya kita penyebab sampah. Tapi sampah dari 11 muara dari Jakarta masuk ke kita," tuturnya.

Ia menambahkan, informasi dari dinas kebersihan, hanya lima muara yang memiliki jaring di pintu air untuk menyaring sampah. Pulau Tidung yang biasa dikunjungi wisatawan terdiri dari dua pulau yaitu Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil. Kedua pulau ini dihubungkan dengan jembatan kayu. Jembatan yang diberi nama Jembatan Cinta tersebut menjadi ikon dari Pulau Tidung. Pada musim angin barat, sebagian besar sampah yang dihasilkan berasal dari Jakarta.

Foto lengkap di: KOMPAS IMAGES


Editor : I Made Asdhiana