Senin, 22 Desember 2014

News /

CUACA EKSTREM

Suhu Terpanas dalam Enam Tahun Terakhir

Selasa, 10 Mei 2011 | 04:27 WIB

Medan, Kompas - Suhu Kota Medan, Sumatera Utara, naik hingga 36 derajat celsius dalam tiga hari terakhir. Itu suhu tertinggi dalam enam tahun terakhir.

”Puncaknya hari Sabtu yang mencapai 36,3 derajat celsius,” kata Kepala Seksi Data dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Polonia, Medan, Hartanto, Senin (9/5).

Pada Mei 2004, suhu Kota Medan mencapai 36,6 derajat celsius. Itu tercatat sebagai suhu tertinggi dalam 30 tahun terakhir. Suhu normal Kota Medan 30-32 derajat celsius.

Ada tiga penyebab suhu udara di Kota Medan dan sekitarnya ekstrem. Pertama, posisi matahari di utara garis ekuator sehingga penyinaran matahari terhadap belahan bumi utara lebih optimal.

Kedua, kondisi angin menyebar (divergen) sehingga awan sulit menggumpal. Gumpalan awan dapat menghambat sinar matahari jatuh ke bumi.

Ketiga, tingkat kelembaban udara rendah, hanya 43 persen. Normalnya 60-96 persen. ”Suhu panas ini setidaknya akan terus berlangsung hingga sepekan ke depan,” kata Hartanto.

Masyarakat diimbau menjaga kondisi tubuh dengan banyak mengonsumsi air putih dan vitamin. Suhu tinggi ini juga dapat memicu kebakaran baik di perkotaan maupun di hutan.

Suhu ekstrem juga melanda Riau beberapa hari terakhir, hingga 36,5 derajat celsius. Kondisi itu diperkirakan masih akan bertahan tiga hari ke depan.

”Kondisi normal, suhu udara Riau hanya 33-34 derajat celsius. Lebih dari 35 derajat celsius dapat dikategorikan ekstrem. Kondisi ini dampak badai tropis di Filipina. Awan hujan yang ada di atas Sumatera bagian tengah tertarik ke pusat badai,” ujar Ardhitama, staf Analisa BMKG Pekanbaru.

Berdasarkan data pemantauan Satelit NOAA 18 yang tercatat di BMKG Pekanbaru, titik panas di Riau mencapai 49 titik. Kepala Biro Humas Pemerintah Provinsi Riau Chairul Riski mengatakan, Badan Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan Riau mengeluarkan edaran ke semua kabupaten/kota se-Riau agar mengimbau masyarakat tak membakar lahan. Tim Manggala Agni dan Masyarakat Peduli Api diminta waspada.

Di Medan, sejak Sabtu lalu banyak warga mengeluhkan panasnya udara. ”Saya sampai bawa es batu untuk mengompres leher. Enggak tahan panasnya,” kata Harven, penjaga gerbang di kawasan Bandara Polonia.

”Tak sanggup kami berjalan dalam kondisi seperti ini. Kalau tidak ada urusan penting betul, lebih baik menunggu hari sampai agak sore,” kata Syamsudin, salah satu pengendara sepeda motor di Pekanbaru, Riau. (MHF/SAH)


Editor :