Rabu, 3 September 2014

News / Regional

Hari Kartini

Para Kartini 'Angkong' dari Merapi...

Kamis, 21 April 2011 | 21:21 WIB

MAGELANG, KOMPAS.com - Hari Kartini diperingati dengan cara unik oleh ibu-ibu korban banjir lahar dingin di Desa Sirahan Salam Magelang Jawa Tengah, Kamis (21/4/2011).

Tidak ada upacara, pakaian kebaya, peragaan busana atau lomba memasak. Namun, mereka justru berlomba mengumpulkan pasir untuk suami-suami mereka. Pasir-pasir yang sudah terkumpul itu selanjutnya dipakai membuat batako.

Para ibu yang sudah terbiasa membawa angkong (gerobak pasir kecil) sama sekali tak terlihat canggung ketika harus membawa angkong yang berisi pasir penuh. Tak terlihat pula raut kesedihan di wajah mereka, seolah lupa dengan kondisi rumah dan lahan pertanian mereka yang hancur diterjang banjir lahar dingin Merapi sejak Januari lalu.

Yang tampak justru keceriaan dan kekompakan antar sesama tim lomba. "Kami jadi semangat lagi, dan kami juga ingin sesemangat Raden Ajeng Kartini," kata Zumaro, salah satu peserta lomba Balap Angkong.

Heri Wahyudi, Koordinator kegiatan mengatakan, acara ini dilaksanakan untuk menggugah semangat para kaum ibu, agar lekas bangkit dari segala keterpurukan pasca bencana Merapi. "Kita hanya ingin menggugah hati ibu-ibu untuk bangkit lagi, semangat, seperti semangat Raden Ajeng Kartini. Hidup Raden Ajeng Kartini!," kata Heri disambut sorak sorai ibu-ibu.

Penyelenggra lomba juga menyediakan hadiah bagi para pemenang. Rp 100 ribu bagi juara pertama, Rp 75 ribu bagi juara kedua, dan Rp 50 ribu bagi pemenang ketiga. "Yang penting bukan hadiahnya, namun bagaimana semangat untuk tetap menjalani kehidupan kedepan ini yang jauh lebih penting," ujar Heri di sela kegiatan.

Sejak terjadi bencana banjir lahar dingin, kehidupan mereka berubah drastis. Sebelum bencana, sebagian besar mereka berprofesi sebagai petani dan penjaga warung kelontong. Namun sekarang terpaksa hidup di pengungsian dan tanpa pekerjaan. Sementara, anak-anak dan keluarga mereka harus tetap dihidupi.

"Kami mengharap ibu-ibu ini bangkit dari segala keterpurukan, terkena bencana lahar dingin, kita tidak hanya berkeluh kesah, dan kita juga tidak nglokro, kita harus maju, seperti majunya, cita-cita raden ajeng kartini," tegas Heri. 


Editor : Glori K. Wadrianto